Showing posts with label filsafat. Show all posts
Showing posts with label filsafat. Show all posts

Nov 13, 2010

Beragama dengan Santai

“Ayo sini.. Naik..”
Tangan penjaga klenteng melambai-lambai memanggil saya dan beberapa kawan yang tengah berkunjung ke Klenteng Dewi Kwan Im di Belitung. Klenteng yang dipercaya para lajang untuk berdoa mendapatkan jodoh. Letaknya diatas bukit. Anak-anak tangga melingkar ke atas menuju bangunan utama klenteng.

”Mau sembahyang?”
Saya mengangguk. Agak ragu.
”Tapi ajarin ya?” Pinta saya pada sang penjaga.
”Cuci tangan dulu di situ..” Si penjaga menunjuk sebuah wastafel yang menempel pada dinding pintu masuk.
”Ambil ini..” Perintahnya sambil mengasungkan kaleng penuh hio.
”Ambil berapa?” Saya bertanya penuh semangat.
”12. Mau dibakarin?”
Saya mengangguk.
”Nanti taro 3-3 ya. Di depan sana samping kiri kanan sama di depan patung sini. Sambil baca doa. Apa yang mau diminta.” Si penjaga memberi petunjuk dengan rinci.
Saya mengikuti petunjuknya. Membawa batangan hio yang telah dibakar dengan dua tangan tertangkup di depan dada. Asap tipis mengawang di udara. Saya menghampiri meja-meja altar dengan lilin-lilin besar tegak di kana kiri meja. Patung-patung budha bertubuh tambun dengan mimik lucu terduduk di hadapan meja bersama sebuah baskom kuningan besar berisi abu tempat menancapkan batangan hio.
Saya membagi hio di genggaman tiga-tiga. Merapal beberapa kalimat sakti. Membungkukkan badan tiga kali. Menancapkan tiga batang hio pada baskom besar berisi abu tempat beberapa hio lain telah tertancap. Membayangkan adegan-adegan dalam film-film Cina.
“Mau diramal?” Si penjaga kembali bertanya.
“Eeemmm… liat yang lain dulu deh..” Saya ragu-ragu. Meski penasaran juga.
Seorang teman yang selesai melakukan ritual yang sama tanpa ragu berkata:
“Saya mau, Koh, diramal..”
“Sini..” si penjaga tak kalah semangat. “Mau doa sendiri atau didoain?”
“Didoain, saya gak tau bacaannya..”
“Sebutin nama, umur.. terus lagi punya masalah apa biar dibantu jalan kluarnya sama Dewi Kwan Im.”
“Diomongin, apa dalam hati aja?” Teman saya bertanya ragu.
“Diomongin aja.” Si penjaga menjelaskan.
“Engg... anu.. nama saya... umur... lagi ada problem sama kerjaan... bla.. bla...” Teman saya mulai curhat.
“Eh, untung gue belum jadi diramal. Bisa ketauan rahasia gue..” Saya berbisik pada teman disebelah saya. Kami terkikik.
Curhatan teman selesai. Si penjaga berkomat-kamit melafalkan sesuatu dalam bahasa Tiongkok. Tangannya menggenggam tabung bambu berisi bilah-bilah bambu tipis beraksara Cina. Mengocok-kocok tabung tersebut hingga salah satu bilah bambu mencelat keluar. Si penjaga membawa bilah bambu itu pada rak berisi lembaran-lembaran kertas beraksara Tionghoa. Ia mencocokkan tulisan pada bilah bambu dan amplop-amplop kertas yang berjajar pada rak. Setelah mendapatkan kartu yang pas ia menarik secarik kertas yang ada di dalam amplop. Secarik kertas bertulisan Melayu.
CIAM SI No. 31
Naga dan macan berjumpa di dalam hutan. Walaupun tidak membahayakan tapi pasti ragu.
Kini sebaiknya tenang saja di dalam rumah hingga datangnya suasana yang tentram.
Teman yang diramal mengangguk senang. ”Cocok kok ramalannya..”
Ia tersenyum puas sambil menyelipkan selembar limapuluhribuan pada kotak uang yang nongkrong di meja.
”Eh lu kok gak ikut sembahyang?” Saya bertanya pada teman saya yang berperawakan Cina.
”Lagi dapet.” Ia menjawab cepat.
”Emang kalo lagi dapet gak boleh ya?” Saya sempat merasa berdosa. Mengingat saya pun tengah dalam kondisi yang tak suci.
”Tergantung masing-masing sih. Ada yang percaya ada yang gak..” jawabannya sedikit menenangkan saya.
“Lu juga gak sembahyang?” tanya saya pada teman yang lain. Laki-laki yang juga berperawakan Cina. Bahkan namanya pun masih menggunakan nama Tionghoa.
“Ih.. gue gak sembahyang begituan kali. Tiap Minggu gue dah ke gereja. Lagian gue juga gak ngerti sama yang beginian..” Ia tampak enggan dihubung-hubungkan dengan ritual di klenteng ini.
”Eh, Dewi Kwan Im-nya kayak apa sih, Koh?” Saya bertanya penasaran pada si penjaga.
”Lha itu..” Ia merujuk pada gambar besar dengan pigura kaca. Tertempel di sudut ruangan. Seorang putri cantik berjubah putih berdiri diatas kepala naga yang tengah meliuk-liuk di tengah samudera. Sosok sang Dewi mengingatkan saya pada Nyi Roro Kidul. Ratu cantik penguasa laut Selatan di Jawa.
”Asalnya dari laut sana.” Si penjaga melanjutkan. Menunjuk ke luar klenteng. Pemandangan lautan terhampar dari altar halaman depan ruang utama klenteng.
”Eh namanya siapa Koh..?” Saya bertanya mengakhiri.
”Aliong.”
”Kamsia ya Koh..”

****

Hari Minggu menjadi hari yang spesial buat saya selama tinggal di Oslo. Pada hari itu saya memiliki agenda rutin berkunjung ke gereja-gereja yang ada di kota ini.
Ada beberapa alasan mengapa saya melakukan aktifitas ini.
Pertama, saya tak ingin rugi menganggurkan kartu bulanan saya. Kartu yang bisa digunakan untuk seluruh moda transportasi publik di kota Oslo. Trem, subway, bus, hingga feri yang bisa mengantar kita melihat-lihat fjord dan pulau-pulau kecil di sekitar Oslo. Dengan membeli kartu bulanan kita juga akan mendapatkan diskon yang cukup besar dibanding membeli kartu eceran harian atau pass sekali naik. Meski, kalau anda tak sering bepergian atau justru lebih banyak bepergian keluar kota, kartu bulanan anda tentu akan menjadi mubazir.
Nah, saya termasuk orang yang tak mau merugi dengan kartu bulanan itu. Maka meski hari Sabtu atau Minggu saya usahakan pergi meski tanpa tujuan. Wisata keliling kota dengan berpindah dari satu moda transportasi ke moda transportasi lain. Tak ubahnya seperti kelakukan Mr. Bean yang tengil dan pelit itu lah..
Kedua, plesiran ke gereja bisa menjadi salah satu alternatif membunuh waktu yang jitu di hari Minggu. Sebagai negara dimana para buruh menjadi penguasa, hari Minggu adalah hari bagi para buruh memanjakan diri. Along the day. Beberapa aktivitas mulai menurunkan intensitasnya pada hari Sabtu dan benar-benar berhenti pada hari Minggu. Kota menjadi sepi. Gedung-gedung tutup. Hampir tak ada toko yang buka. Kalaupun ada harganya menjadi luar biasa.
Diantara sedikit gedung yang buka pada hari Minggu adalah gereja. Mayoritas gereja di kota ini adalah gereja Protestan. Semua gereja akan melakukan misa pukul 11 siang. Misa dilakukan dalam bahasa Norwegia. Kalaupun ada yang dalam bahasa Inggris biasanya pada petang hari. Itu pun sangat jarang. Satu-satunya gereja Katolik (yang saya tau) dan melakukan misa dalam bahasa Inggris ada di pusat kota. Misa dilakukan pada pukul lima sore hari. Katedral ini konon dibangun khusus diperuntukkan bagi para tenaga kerja asal Filipina (TKF) yang menjadi tenaga kerja cukup berpengaruh di Norwegia. Kisah sukses juga banyak mengalir dari para TKF ini. Banyak dari mereka yang berhasil beralih kewarganegaraan dengan mengawini warga asli Norway.
Ketiga, pengalaman pertama saya yang awalnya secara iseng pergi ke gereja dekat asrama tempat saya tinggal pada akhirnya memberi efek candu bagi saya. Pergi dari satu gereja ke gereja lain memperkaya pengetahuan saya akan seni arsitektur di kota ini. Sebanyak gereja yang saya kunjungi, tak ada satupun arsitektur yang sama. Begitu beragam dan unik. Mulai dari yang sangat cozy dengan kayu-kayu Norwegia yang terkenal sangat kuat namun juga hangat yang melapisi seluruh ruangan dalam gereja, atau gaya Romawi kuno dengan ruangan beratap tinggi dan kaca-kaca patri di atap yang memberi kesan cahaya matahari berpendar dengan cantik. Salah satu gereja bahkan ada yang bergaya sangat posmodern hingga sama sekali tak mirip dengan bangunan gereja ataupun seperti rumah ibadah konvensional. Gereja yang mendapat sejumlah penghargaan untuk desain bangunan tersebut juga dimasukkan dalam salah satu dari seni kontemporer di Oslo.
Selain, saya juga suka sekali mendengar hymne-hymne yang dinyanyikan pada saat misa di gereja-gereja tersebut. Membandingkan satu paduan suara dengan paduan suara lain yang sangat bervariasi. Pada momen ini saya juga bisa bertindak gila dengan ikut bernyanyi-nyayi dalam bahasa Norway yang tak sepenuhnya saya mengerti. Sementara lyric hymne bisa dengan mudah didapat lewat selebaran atau booklet yang dibagikan pada saat jemaat masuk ruangan atau telah tersedia di masing-masing bangku jemaat.
Saat tetirah gereja ini saya juga mendapati sebuah gereja yang dipimpin oleh seorang pendeta dan petugas yang semuanya perempuan. Meski jemaatnya tidak hanya perempuan. Mimbar khotbah pun dibuat unik. Menggantung di salah pilar besar dan tinggi. Pada saat khutbah, pendeta perempuan yang masih muda dan cantik itu naik ke atas mimbar yang menggantung tersebut. Dengan suara yang merdu ia menyapa jamaat yang ada di bawahnya. Sinar matahari yang masuk lewat salah satu kaca atap memberi siluet indah. Saat jubah putih tipis sang pendeta berkibar menerawang diiringi koor paduan suara yang syahdu, saya seperti tengah syuting dalam salah satu adegan ”Lord of the Ring” bersama peri cantik di tengah hutan.
Omong-omong soal bahasa Norway, komuni-komuni dalam gereja inilah yang dengan baik hati menyediakan kursus bahasa Norway secara gratis. Saya sempat ikut komunitas ini. Menambah jaringan pertemanan sekaligus bisa sedikit mengirit bea makan malam. Pada setiap pertemuan secara berkala akan digilir juru masak dari para anggota yang berasal dari beragam negara. Anggota lain yang tak memasak hanya diminta sumbangan a la kadarnya dan bantu bersih-bersih selesai acara. Maka selain bisa belajar menyapa dengan bahasa Norway paling dasar saya juga punya kesempatan untuk mencicipi aneka penganan dari beragam negara. Tortilla a la Meksiko, pasta Italia, atau salmon saus jeruk a la Norwegia.
Meski, ada juga momen yang tak begitu saya sukai saat mengikuti ibadat misa di gereja-gereja tersebut. Saat para pendeta menyampaikan khotbahnya. Dalam bahasa Norway dan durasi yang cukup lama. Membuat mata ingin mengantuk.
Juga saat kantong-kantong amal (dengan beragam bentuk. Masing-masing gereja juga punya desain kantongnya sendiri-sendiri) mulai disebarkan petugas dan jamaat merogoh recehan disakunya untuk disumbangkan secara sukarela. Saya kerap tak enak hati bila hanya mendiamkan tangan saya. Untuk menyiasatinya, lagi-lagi saya gunakan aksi tengil dan pelit-nya Mr. Bean. Meraih kantong yang diasongkan, memasukkan tangan ke kantong dengan sedikit kocokan sehingga sedikit bunyi dentingan koin terdengar seolah-olah baru saja memasukkan beberapa koin ke dalam kantong, lalu segera mengangsurkan kantong ke jemaat di samping saya.

****

”Eh lu masih sholat kan?” Tanya teman yang lama tak bertemu dan terkejut melihat penampilan baru (sekaligus cantik) saya :)
”Ih kayak emak gue aja pertanyaan lu..” Saya menjawab dengan tertawa.
Selama menjadi musafir di Eropa harus diakui cukup sulit (kalau tidak dikatakan malas) buat saya menjaga ritme keberlangsungan shalat. Apalagi memasuki musim panas yang jadwal shalatnya bisa sangat amburadul. Magrib bisa jam 9 atau 10 malam. Isya pukul 11 atau 12, dan subuh pukul 2 pagi.
Sementara keinginan saya untuk bisa berziarah ke Kota Mekkah dan Madinah tak jua terkabul, visa Schengen saya malah mendamparkan saya sampai ke Vatikan. Ikut ramai merayakan Paskah dan antri menyemut dengan satu tujuan yang sama dengan ribuan pengunjung lain. Bertemu Paus baik yang masih hidup atau yang sudah terpendam bersama batu-batu pualam ciamik di lantai dasar Basilica.
Kembali ke tanah air persoalan beragama menjadi soal yang (dibuat) rumit. Hubungannya tak lagi antara saya dan Tuhan saya. Tapi melibatkan juga orang-orang sekitar yang ikut sibuk ingin tahu dan mengatur bagaiman hubungan antara saya dan Tuhan saya seharusnya berjalan. Garis hubungan ini makin menjadi benang kusut bila anda kebetulan seorang perempuan. Sejumlah list do and don’t atas nama agama menjadi tuntutan bagi para perempuan untuk dilakukan dan bahkan didesakkan untuk menjadi undang-undang.
Belum lagi sentimen keagamaan yang telah ditanamkan sejak kecil. Menjadi ajaran yang terus mengendap di alam bawah sadarnya. Tak heran bila dalam pergaulan kesehariannya, bocah-bocah tersebut sudah mampu mengidentifikasi agamanya menjadi agama yang terbaik dan menjadi teropong untuk mengukur agama orang lain. Bila ia bermain dan bertemu dengan sesuatu yang berbeda dengan adat dan tata laku agamanya, ia bisa dengan spontannya berkata: ”Ih.. pantesan dia begitu. Dia kan agamanya A/B/C...”
Begitupun sebelum memutuskan untuk mengidolakan seseorang, pertanyaan (entah sadar atau tidak) pertama yang sering muncul adalah ”Agamanya apa sih?” Kalau ternyata berbeda dengan agama yang dipeluknya maka akan ada kalimat lanjutan: ”Ih.. sayang ya? Padahal dia kan baik..”
Agama juga menjadi identitas yang (diharapkan) terus melekat pada diri seseorang bersama-nama dengan nama dan status seseorang. Saat berobat dan (terpaksa) menjadi pasien rawat inap sebuah rumah sakit ”beragama” di Jakarta, setelah menanyakan nama dan status perkawinan saya, sang juru rawat bertanya, ”Agamanya apa?”
Saya yang tak melihat adanya korelasi antara penyakit yang diderita dengan kepercayaan yang dipeluk seseorang mendapatkan sedikit petunjuk mengapa pertanyaan tersebut diajukan. Rupa-rupanya disediakan para penyiram rohani yang akan mendatangi pasien-pasien yang membutuhkan. Apakah kedatangan para juru selamat tersebut pada akhirnya berdampak baik atau buruk bagi si pasien? Entahlah. Yang jelas saya lebih membutuhkan ketenangan dengan tidur dibanding mendengarkan khotbah.
Fikiran kotor juga kerap muncul, bagaimana ya kira-kira reaksi orang-orang bila saya bilang di KTP saya tertulis Islam, tapi saya kerap ikut misa di gereja dan sembahyang di klenteng? Apakah saya termasuk dalam kelompok Islam beraliran sesat? Apakah saya telah melakukan perbuatan syirik dengan menyembah tuhan selain dari tuhan yang telah diajarkan pada saya sejak saya mengenal huruf dan aksara?
Ah, tapi saya (mencoba berapologi) tak sedikitpun merasa berdosa saat pergi ke tempat-tempat ibadat itu. Sangat excited malah. Tak ada suara-suara berisik dalam diri saya yang terus mengingatkan seperti bila saya harus melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nurani saya.
Buat saya, pertanyaan hakiki yang layak muncul berkaitan dengan perilaku “sinkritisme suka-suka” saya dalam beragama adalah; ”Apakah tuhan-tuhan yang telah saya kunjungi di klenteng, gereja-gereja dan katedral, mushalla dan mesjid-mesjid itu adalah tuhan yang berbeda?”
(Hm, saya belum punya kesempatan mengunjungi sinagoge. Kalau ada tawaran untuk bisa pergi langsung ke Jerussalem dan ikut merintih di tembok ratapan, boleh juga.. :))
Pertanyaan hakiki lainnya berkaitan dengan agama seperti yang pernah diajukan seorang teman suatu ketika. Saat kami terjebak dalam kemacetan lalu lintas sementara Jakarta dihantam hujan badai. Setelah ngobrol ngalor-ngidul dan selingan sumpah serapah mengutuk kemacetan yang makin menggila, tiba-tiba ia bertanya, ”Sebenarnya apa sih fungsi agama?”
Sebuah pertanyaan klasik. Nietzsche telah melakukannya dengan membuat metafora orang gila yang berlari-lari di tengah pasar dengan obor di tangan untuk mencari (dan membunuh) Tuhan. Atau Marx yang mengkritik agama sebagai wahana alienasi manusia dan alat penindas dari penguasa.
”Kalau cuma untuk melarang orang untuk tidak mencuri, membunuh atau berlaku kriminal lainnya, tak perlu agama dong.. Itu kan sudah jadi ketentuan universal. Secara manusiawi pasti ada batasan bagi orang untuk bertindak yang merugikan hidup orang lain..”
Teman saya melanjutkan gugatannya.
Saya mengiyakan saja. Sementara pikiran saya mengawang-awang. Teringat catatan pinggir Goenawan Mohammad suatu ketika. Saat ia mengutip Kant untuk mengulas pertanyaan yang kurang lebih sama seperti yang diajukan teman saya.
”Apa guna Tuhan?”
Lamunan saya juga sampai pada deretan huruf yang pernah dipakai untuk kampanye salah satu kelompok kerukunan antar umat beragama.
”Tuhan agama mu apa?”
Terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut (demi Allah) saya tak punya jawaban pasti.. :)

Tulisan ini diambil dari note di FB : Syafa'atun Aisya

Oct 20, 2010

Hakekat Tasawuf: Wawancara dengan KH. Said Aqil Sirodj*

Terkait dengan pertemuan yang diadakan oleh The Executive Bureau of the World Islamic People's Leadership (WIPL) dan International Bureau of Sufism pada 11-12 Oktober 2010 kemarin di Tripoli, Libya, kami mencoba untuk menggali lebih dalam tentang salah satu agenda yang dibahas disana, yaitu tasawuf. Hadir dari Indonesia perwakilan yang sekaligus menjadi sekjen organisasi internasional tersebut, Bapak. Prof. Dr. K.H. Said Aqil Sirodj, MA. Nah, bagaimana pandangan khas beliau tentang dunia tasawuf ? Berikut petikan wawancara kami.

Sejak dulu, tasawuf telah menuai pro-kontra di dunia Islam sendiri. Bagaimana sebenarnya tasawuf itu ?
Sejak lahirnya, tasawuf memang sudah ada yang menyikapinya dengan pro dan kontra. Yang kontra terutama dari ulama hadits akibat perkataan ulama tasawuf yang menganggap tidak cukup mengurusi amaliah lahir (esoteric) tapi juga harus bersifat batin. Tetapi, asal mula tasawuf itu sendiri berangkat dari zuhud dalam menyikapi dunia. Ambisi kemewahan, hedonisme dan hawa nafsu disikapi dengan meninggalkan itu semua karena dianggap negatif. Bahkan, dianggap menghalangi kita menggapai hakikat kebenaran.

Seseorang tidak akan mencapai sesuatu yang sebenar-benarnya apabila masih terlalu memikirkan materi dan hawa nafsu. Makanya definisi tasawuf yang dimunculkan oleh Umar Ma’ruf at Karkhi (200 H) : “al ahkdzu bil hakoiq wal ya’su mimma fi aidil kholaiq” (mencari kebenaran dan menjauhi apa yang ada di tangan makhluk). Artinya, hal-hal tadi dianggap sebagai suatu kepalsuan jika tidak diimbangi dengan sikap batin yang bersih. Jadi, walaupun ia hafal Al-quran tapi masih sombong, dengki, maka tidak akan mencapai hakekat.

Dan tentang pro-kontra ini, beberapa ulama mencoba untuk mengharmoniskannya, seperti upaya yang dilakukan oleh Imam Ghozali, Imam Bushairi, Junaid. Mereka mensinergikan antara syariat dan hakekat, lahir dan batin. Kata ghozali, “lahir saja menjadi fasiq, dan batin saja menjadi zindiq”.

Karenanya, kalau ada seseorang yang kontra asalkan ia menyikapinya sesuai dengan argumentasi ilmiah dan tanpa mencaci maki, maka akan kita terima.

Pendapat bahwa tasawuf tidak ada dalam Islam karena merupakan hal baru?
Segala sesuatu tidak harus ada pada zaman Nabi. Dalam Al-qur’an sendiri, yang ada adalah ajaran untuk mendorong kita berpikir dan berilmu. Tapi ilmu spesifik apa itu tidak ada disana. Ilmu fikih, ushul, tafsir, nahwu, tajwid dan sebagainya baru ada berpuluh tahun atau abad setelah Nabi wafat. Ilmu tajwid baru ada pada abad kedua oleh Abu Ubaid Qosim bin Salam. Mustalah hadist pada akhir abad pertama oleh Sihabudin Ar Romahurmuzi atas perintah Umar bin Abd Aziz. Berbagai ilmu tersebut merupakan suatu kreatifitas yang tidak ada pada zaman Nabi.

Jadi argumentasi mereka?
Ya nggak tahu. Biasanya mereka cuma berargumen bahwa tasawuf itu tidak dikenal dalam Islam. Tapi, kita sendiri meyakini tasawuf ada sebagai subtansi dari Islam. Rosulullah kan mengajarkan tawadlu, sopan santun, sabar, toleran, pemaaf. Nah, itu semua merupakan ajaran tasawuf.

Terkait sikap zuhud serta tasawuf yang katanya menjadi sumber kemadegan dunia Islam?
Pada hakikatnya zuhud itu suatu sikap yang menganggap bahwa dunia bukanlah segalanya. Kita boleh kaya tapi jangan terlalu dipikirkan kekayaan itu. Nah, kalau ada yang merasa hidupnya susah karena melarat dan ia tidak mau memikirkan dunia, ya itu memang namanya melarat, bukan zahid.

Dalam hadits disebutkan salah satu sahabat bertanya pada Rosulullah: “tunjukkan pada kami amal apa yang menjadikan Allah dan manusia bisa mencintai kami?” Rosulullah bilang: “izhad ma fi aidin nas”. (zuhudlah dari apa yang dimiliki manusia). Zuhud ini bisa dicontohkan ketika kita beramal maka tidak untuk kepentingan pribadi tapi untuk kepentingan umum. Kita bisa lihat Abdul Halim Mahmud, salah satu Syakul Azhar. Beliau waktu itu digaji 500 Juneih. Maka, sebagian kecil dia ambil untuk dirinya, sisanya disedekahkan.

Nah, hakekat zuhud inilah yang juga ada dalam tasawuf. Tasawuf itu adalah mencari kebenaran melalui mujahadah atau olah hati agar kita tidak terlalu cinta dan berambisi terhadap harta; tidak terlalu sombong dan semacamnya. Inti tasawuf inilah yang disebutkan dalam surat al-hadid: 16, yaitu agar kita sebagai orang mukmin mempunyai hati yang bersih dan tidak seperti ahli kitab terdahulu, dimana mereka beragama tapi hatinya keras dan penuh kesombongan.

Lalu bagaimana dengan thoriqot?
Thoriqot itu sebenarnya merupakan madrasah, yaitu jalan untuk menuju jenjang tasawuf, dan bukan tasawuf itu sendiri. Jadi, belum tentu orang yang masuk thoriqot bisa dikatakan sufi.

Jadi, tasawuf lebih seperti sebuah prestasi?
Bahkan tasawuf itu merupakan akhir dari perjalanan spiritual. Kita tahu, bahwa menguasai ilmu pengetahuan itu harus. Karena ilmu akan menunjukkan kepada kebenaran yang bisa menjadikan kita benar-benar beriman. Dan kalau kita beriman dengan benar maka akan menghasilkan ihbatul qulub (hati yang bersih). Inilah puncak dari ilmu dan iman. Orang yang beriman itu selalu merasa hadir bersama Allah, atau minimal sadar bahwa Allah hadir bersama mereka. Nah, ini yang akan menjadikan mereka mempunyai takut dan harap hanya kepada Allah semata.

Kalau begitu, bagaimana sebenarnya peran tasawuf dalam kehidupan sosial?
Puncak tasawuf adalah ketika seorang sufi bisa berbicara dengan umat atas nama Allah dan ketika berbicara dengan Allah atas nama umat. Peran sufi ini adalah sebagai qudwah (panutan). Ketika berdoa dia tidak hanya berdoa untuk dirinya tapi juga untuk umat. Atau ketika dia berdakwah dia benar-benar mengajak umat kepada Allah, bukan untuk mencari popularitas dan semacamnya.

Makanya, sekarang ini sebenarnya kita sedang butuh orang-orang yang mempunyai hati bersih. Orang seperti inilah yang bisa jadi qudwah untuk memimpin karena mereka akan punya karisma yang datang dari Allah sebagai sebuah karomah.

Tentang perkembangan tasawuf di Indonesia ?
Dulu, Islam yang hadir di Indonesia itu Islam tasawuf yang menghadirkan pendekatan spiritual sufistik sambil sedikit dibungkus dengan mistisme.

Kalau pada level dunia?
Sangat luar biasa. Bahkan, Setiap Syeih Azhar pasti sufi. Ia pasti punya thoriqot.

Berkaitan dengan muktamar tasawuf yang diadakan di Libya sekarang, apa saja yang dihasilkan dari pertemuan ini?
Ini kan sebenarnya baru pertama kali. Ya, sebagai ajang ta’aruf dulu agar sufi Indonesia kenal dengan sufi Libya, Arfika dan negara-negara lainnya. Yang sama-sama masuk thoriqot juga biar saling mengetahui. Masak sesama yang mengamalkan Syadziliyah tidak kenal. Atau sesama Naqsyabandiyah tidak tahu? Jadi, perkenalan dulu.

Terus langkah ke depan setelah ta’aruf ini?
Kita bisa saling koordinasi, misalnya untuk mencegah atau mengimbangi extremisme dan radikalisme beragama yang sekarang lagi marak. Karena kita tahu Islam itu sama sekali tidak mengajarkan untuk jadi radikal. "Ahsanul amal husnul khuluq" (sebaik-baik amal adalah budi pekerti yang baik). Jadi, “agama itu ya moral yang baik”. []


* Dimuat untuk Buletin SAHARA KKMI Libya, edisi Oktober 2010.

Aug 4, 2010

Sebuah Pencarian

HANYA ENGKAU YANG MAHA TAHU

Gersang jiwa lewati setiap detikku
Kosong beku dalam endapan akalku
Mereka bilang aku kacau
Padahal hanya Engkau yang Maha Tahu
Aku ingin minta maaf
Karena mungkin telah lancang seolah menantang
Mengusik ketabuan tentangMu
Bukan tak percaya, hanya ingin semakin yakin terasa
Dan hanya Engkau jualah yang Maha Tahu

Mereka lihat aku beribadah
Sholat, puasa, haji, berjubah
lalu akupun dipanggil tuan saudara
Padahal aku tak merasa apa-apa
Mereka lihat aku tidur, melamun, dan bertanya
Tuhan itu siapa? Dimana? Bagaimana?
Juga, buat apa itu ibadah?
langsung saja kudapati sumpah serapah
Padahal saat itulah aku merasa
Lagi-lagi hanya Engkaulah yang Maha Tahu

Tuhan, kuadukan semua ini padaMu
Apakah salah jika kuikuti Ibrahim
menapak alam Mencari diriMu?!
Apakah dosa jika kuminta seperti Musa
melihatMu, meyakinkanku?!
Apakah kesia-siaan mengikuti Muhammad
mencoba tak berucap “kami hanya mengikuti bapak-bapak kami?!"

Ah, entahlah…
Aku hanyalah hamba bodoh yang tak tahu diri
Semoga Engkau sudi mengampuniku
tak maksud hati menantang
hanyalah pengaduan, doa harapan
Sebuah Pencarian
Lagi-lagi, aku yakin hanyalah Engkau yang Maha Tahu

Aug 2, 2010

Clash of Faith

Just an opinion.

TEMPO Interaktif, Bekasi -
"Bentrok antar organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam dengan jemaat gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Pondok Timur Indah, kembali terjadi, Ahad (1/8). Tidak ada korban jiwa dalam musibah itu."
Tempo Interaktif
========================

itu tadi satu kutipan berita soal problematika keagamaan di Indonesia. udah maklum lah masalah kayak gini. ya emang ini masalah yang serius. sangat problematik. benar2 bahaya laten. tapi, masalahnya kok kayaknya ndak ada usaha serius terutama dari pemerintah sama elit2 egama buat meminimalsir gitu. lah faktanya, makin hari makin banyak aja hal kayak gini, seolah para para pemegang otoritas malah "ngomporin" masalah ini.

kenapa sih keimanan kok dibentrok-bentrokkan dengan jalan kekerasan?? bukankah iman itu dari hati ke hati?? lah, ini sistem dakwah era peradaban klasik masih dipake aja.... :|

kalau misalnya ada "pemaksaan iman", sebenarnya pemaksaan iman itu gimana sih?
apa bentuk bantuan sosial masuk pemaksaan? apa ngasih sekardus Mie Instan masuk kategori itu? menurutku itu ya cuma satu bentuk alat dakwah, bukan pemaksaan. dan tiap agama pasti ngelakuin dakwah dengan model kayak gini. nggak mungkin kan membatasi alat dakwah cuma pake satu model saja ?!

terus, masalahnya, orang yang konversi agama alias murtad dengan sendirinya apa bisa dikategorikan kejahatan? apa orang yang pindah agama atau iman (maaf, misalanya setelah dapat sembako) itu Apa masuk domain kriminal?

buat setiap agama dengan dai/misionaris2nya harus saingan yang sehat dong. gak usah jadi pada phobia banget sama agama lain -apalagi sama hal2 yang ndak ada kaitannya sama agama secara langsung. soal dakwah, kalau ada unsur pemerasan, ancaman kekerasan, pelanggaran ham, dst... ya mbok monggo laporin ke polisi langsung. kalau ndak, ya balik lagi ke tanggung jawab pribadi dan kumunitas.

saya rasa kita terlalu lemah iman, terlalu takut ma pihak luar di luar komunitas kita. ini kayak nunjukin kalo selama ini dakwah/mision dan penyebaran agama kita kurang mantabb..

kalau selama ini elit2 agama A misalnya dakwahnya lebih fokus di tingkat atas, terutama ngurus kekuasaan, dan kurang ngurusin problem sosial, keseharian umatnya, terus ada agama B yang dakwahnya merhatiin hal-hal yg kedua tadi, otomatis umat kan lebih milih yang praktis. ini saya rasa udah hukum kausalitas.

Rosulullah saw. dulu ketika orang2 elit arab tidak punya perhatian sama masalah2 sosial, tidak merhatiin rakyat ketjil, bahkan malah nindas mereka.. terus nabi yang akhirnya ngambil nghandle masalah itu, membela kepentingan mereka, maka rakyat banyak yang simpati sama nabi. akhirnya mereka masuk Islam dan benar2 "pasrah", "rela", "tunduk" sama agama baru itu. itu tanpa perang loh. nggak ada yang namanya pemaksaan agama atau penyebaran pake kekuasaan. tapi mereka sadar dan iklas masuk agama yang dibawa nabi dengan sendirinya.

terus, kenapa sekarang terbalik? agama kayak jadi tembok berlin yang misahin jerman barat dan jerman timur? ngurung pemeluknya gak boleh keluar dari sarangnya, nggak boleh nyapa tetangga, teposliro, tenggang roso !! apa ini nggak nunjukin kalo komunitas yang kayak gini sebenarnya lemah dari dalam?? ato lagi kena sindrom virus endemik yang nggak terasa kecuali setelah sekian puluh tahun !! (maaf lagi, perumpamaannya terlalu kasar ya kayaknya???!! hehehe... )

saya ndak tahu lah mau diapain Indonesia ini. saya juga ndak tau keimanan kita buat apa kalo kayak gini. saya cuma yakin haqqul yakin, agama itu timbul dari iman dan iman timbul dari hati yang mantabbb !!

what your opinion?????

May 14, 2010

Tuhan, Haruskah Kupenggal Temanku Sekarang?

Tanpa terlalu jauh melihat pada perbedaan yang ada, agama saat ini tengah dilanda krisis yang terlampau berat untuk dipecahkan. Agama seolah telah melahirkan berbagai persoalan kemanusiaan yang seharusnya bisa diselesaikan dengan keberadaannya tersebut. Sebuah paradoks, memang. Kemiskinan, diskriminasi hak, intoleransi, hingga berbagai perang atas nama tuhan dan agama tetap saja dilakukan meski sebenarnya kita telah tahu bahwa tidak ada untungnya semua itu. Yang ada hanyalah kebencian, dendam, kematian dan kehancuran diri sndri. Bahkan kalau dipikir lagi bisa menodai agama itu sendiri yang sejatinya mengajarkan perdamaian, toleransi, pembebasan dan penghargaan kepada hidup.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa dalam setiap agama saya rasa disana ia juga punya daya dan legitimasi bagi pemeluknya untuk melakukan semacam tindakan yang sepertinya bertentangan dengan jiwa perdamaian. Namun, apa yg ada sekarang ini, seolah sudah banyak yang keluar dari batas-batas kewajarannya. Dan ini saya rasa adalah hasil dari kesalah pahaman dalam memahami ke-beragama-an itu sendri. Agama telah mengajarkan perdamaian, saling mengh0rmati orang yang berbeda pendapat dan keyakinan, serta menyuruh untuk mencari kebenaran melalui dialog yang bijaksna dan tanpa paksaan. Namun semua nilai dan ajaran agama yang positif tersebut seolah tidak pernah ada atau memang sengaja ditutupi hanya karena adanya beberapa ayat suci lainnya yang mengisyaratkan pada penggunaan kekerasan dalam membela agama dan tuhan. Ayat-ayat suci tersebut dibaca dengan dibarengi pra-k0nklusi yang salah yang terlebih dahulu sudah menjadi keyakinan disamping mungkin karena adanya motif-motif pribadi untuk menyingkirkan yang lain. Berangkat dari pemahaman ke-beragama-an seperti ini, agama telah berubah menjadi penyebab utama dari dehumanisasi yang sedang berlangsung.

Jika kaum marxian dan golongan atheis dulu mengatakan bahwa kita beragama karena merasa lemah dan tidak percaya diri dengan kemampuan kita dalamm menjalani hidup yang mana itu mengharuskan kita untuk meminta perlindungan pada kekuatan di luar kita (tuhan), maka sekarang ini kita beragama seolah untuk menyenangkan tuhan dengan pembantaian-pembantaian lalu menyodorkan nyawa-nyawa yang Dia ciptakan sendri sebagai persembahan bahwa kita adalah pembelaNya.

sebagai mahluk berakal, rasanya sangat sulit untuk membenarkan pemahaman beragama seperti itu karena seolah tuhan sedang benar-benar bermain dengan ide gilanya dengan menciptakan manusia lalu menyuruhnya saling bertarung. Kemudian untuk setiap potongan kepala, tuhan tertawa puas dengan permainannya itu.

Apa memang tidak ada lagi tujuan beragama selain membuat tuhan tertawa seperti itu? Apa tuhan tidak memerintahkan kita melalui agama agar saling mencinta? Membangun dunia? Berdialog dalam mencari kbenaran? Apa tuhan tidak suka kalau manusia menyembah-Nya karena kesadarannya sendiri? Menyembah tanpa paksaan? Menyembah karena cinta? Atau lakum dinukum wa liya diin...??

Kalau memang agama hanya untuk perang, aku ingin bertanya pada tuhan: haruskah ku penggal temanku untuk-MU sekarang??

May 11, 2010

Aktualisasi Pemahaman Ibadah


Segala sesuatu yang baik yang kita niatkan ibadah kepada Allah akan bernilai ibadah pula. Begitulah pemahaman kita akan makna ibadah. Begitu pentingnya suatu arti ibadah sampai-sampai hampir semua ulama menulis berjilid buku tentang ibadah. Ibadah memang terlalu luas untuk bisa ditulis dalam beberapa buku; apalagi ditulis hanya dalam beberapa paragraph yang sangat ringkas ini. Namun disini akan kita coba untuk mengambilnya dari satu sisi saja yang mana satu sisi ini sangatlah penting sekali bagi ibadah itu sendiri yaitu, pemahaman kita akan makna ibadah.

Islam dengan ke-universalitasan-nya telah memadukan antara dua aspek yang mempunyai daerahnya sendiri-sendiri. Aspek religius yang menyangkut hubungan vertical antara mahluk dengan Tuhannya dan aspek duniawi antara mahluk dengan sesamanya. Islam telah menggabungkan keduanya dengan mengikatnya dalam satu frame yang disebut ibadah. Dalam frame ini, Hubungan antara keduanya telah melahirkan satu garis tegak lurus yang menghilangkan perbedaan antara aspek religius dan aspek duniawi. Sehingga, hubungan apapun antar sesame mahluk juga tidak lain adalah hubungan antara mahluk dengan Tuhannya karena dari Dia-lah semua mahluk ada. Namun tentunya tidak semua hubungan tersebut bisa dikatakan ibadah. Hanya hubungan yang baik dengan niat ikhlas-lah yang akan bernilai ibadah.

Ibadah bisa dibagi menjadi dua macam, yakni ibadah yang bermanfaat untak pribadi (individual/syakhshiyah) dan untuk orang lain atau masyarakat (sosial/ijtima'iyah). Sebelum meningkatkan amaliah ibadah, seseorang perlu meningkatkan keimanan dan kepercayaan akan wujud Allah dengan segala perintah dan laranganNya, kepercayaan akan adanya pahala serta keyakinan akan manfaat dan faedah dari amaliah ibadah. Sholat, puasa, membaca Al-qur'an dan zikir, hanyalah beberapa contoh dari ibadah individual yang berlabel agama murni. Dan tentu diluar itu semua masih sangatlah banyak macam-macamnya yang lain. bekerja, belajar, saling menghormati, saling menolong, membangun jalan, rumah sakit, hingga makan dan senyum-pun bisa dikategorikan sebagai ibadah jika diniatkan ikhlas pada Allah. dan ini semua bisa dikategorikan kedalam ibadah.

Meskipun ada indikasi yang mencolok bahwa Islam semakin mendapat tempat di kalangan masyarakat, semakin bertambanya jumlah pemeluknya, pembangunan masjid dan musholla, majlis ta'lim serta kajian-kajian Islam, namun hal itu tidak berarti menunjukkan bahwa ajaran agama Islam secara substansial juga berkembang. Berkenaan dengan itu semua, ada fenomena menarik yang sedang terjadi pada umat Islam dimana kita sering terjangkiti oleh syndrome dualisme yang membedakan antara ibadah dalam dua aspek diatas. Kita sering menganggap bahwa aspek pertama lebih bernilai ibadah dari pada aspek kedua atau bahkan hanya aspek pertamalah yang layak disebut ibadah. Sehingga kita kadang merasa ogah atau susah untuk menjalankan aspek yang kedua tersebut. Kita akhirnya hanya sekedar beraktivitas dilingkaran masjid atau dalam hal-hal yang berbau agama murni. Siang kita puasa dan malamnya kita bersujud seribu kali. Di sisi lain, kita tidak mau terjun bekerja, berusaha, belajar dan membangun dunia.

Kalau kita mau mencari akarnya, sebenarnya sikap seperti ini adalah hasil dari kesalah pahaman dalam mengartikan ibadah. Pemahaman tentang konsep ibadah pada umumnya masih terpaku pada bentuk-bentuk ritual formal, terikat oleh syarat, rukun, waktu dan ketentuan-ketentuan tertentu. dan ini adalah bias dari pemahaman ibadah yang tidak bisa dilepaskan dari legal-formal fiqih yang menjadi basis dalam beribadah. Ibadah juga hanya diartikan hal yang berhubungan dengan Tuhan langsung. Bahkan kadang lebih parah dengan mengartikannya sebagai "agama" dengan tanda kutip yang berarti hal-hal yang mempunyai hubunagn dengan agama. Padahal arti ibadah sangatlah luas seluas alam-Nya dan agama hanyalah salah satu forum yang menaungi beberapa macam ibadah secara formal. Diluar itu sangatlah banyak ibadah non-formal yang bisa kita lakukan meski tanpa dengan embel-embel agama.

Seperti konsep amal jariyah, shodaqoh dan zakat. kita masih tidak bisa melepaskan diri dari keformalan ibadah ini yang diatur oleh fiqih. pemahaman ibadah kita tentang beberapa contoh diatas adalah bahwa yang namanya shodaqoh atau amal jariyah lainnya dalam bingkai fiqih adalah Sunnah. sedangkan zakat, adalah wajib meski syaratnya adalah jika telah mencapai nishab. dari pemahaman yang formalis ini, kadang menjadikan kita sangat bernafsu untuk bisa melakukan ibadah wajib yang bernama zakat. Sedang ibadah shodaqoh atau amal jariyah lainnya kita abaikan karena hanya berstatus Sunnah. padahal dari sudut lain semua ibadah tadi bertujuan untuk mensucikan harta sekaligus menolong orang lain dari kesulitan finansial. sedangkan menolong orang lain adalah wajib apalagi saat realitas kita saat ini yang serba sulit.

Kemiskinan dan penganguran dimana-mana. banyaknya anak-anak yang putus sekolah, gelandangan dan lainnya yang akhirnya memunculkan berbagai ketimpangan social dan tindak criminal tentunya harus diperhatikan tidak hanya melalui konsep legal-formal saja, tetapi juga harus dipahami secara realistis lewat konsep ibadah yang menyeluruh (syamil). dan untuk mendapatkan konsep ibadah seperti itu, kita harus mengubah pemahaman kita bahwa shodaqoh saat ini adalah lebih wajib dari zakat meski hukum zakat sendiri tidak bisa dirubah menjadi Sunnah. dari sini kita akan menjadi bersemangat untuk membantu orang dan membangun masyarakat meski dalam formalnya shodaqoh juga tetap Sunnah.

Begitu pula dengan masalah pendidikan, khususnya yang berkaitan dengan pendidikan non-agama atau pendidikan umum. belajar ilmu agama lebih penting dan lebih utama dari pada belajar ilmu-ilmu umum. sehingga ulama yang ada dalam hadits "sesungguhnya ulama' adalah pewaris para nabi" seakan hanya dipahami sebgai ulama dalam bidang agama, lainnya tidak. Dan ini adalah suatu pemahaman yang kurang benar dan tidak fair yang mengakibatkan adanya jarak yang sangat jauh antara ilmu agama dengan ilmu umum. Kesalahan kita adalah bahwa kita membedakan sedemikian jauh antara pentingnya ilmu agama dan ilmu umum, seakan ilmu umum adalah sesuatu yang kurang bermanfaat karena tujuannya adlah bersifat sementara. Sedang ilmu agama adlah sesuatu yang akan mengantarkan kita kepada kebahagiaan hakiki, yaitu akhirat. Akibatnya, kita tidak mempunyai concern terhadap ilmu umum tersebut. Apalagi semenjak kunci peradaban beralih ke Barat, dimana produk-produk ilmu pengetahuan dan teknologi kemudian terlahir dari para ilmuan non-muslim.

Mungkin bisa ditelusuri bahwa secara psikologis kita sebagai umat Islam masih terpengaruh oleh trauma sejarah akibat penjajahan yang dilakukan oleh orang-orang Barat, dimana dunia Islam selama sekian ratus tahun telah diperas dan dihancurkan oleh mereka dengan menggunakan produk ilmu pengetahuan. Bahkan sampai sekarang apa yang disebut dengan benturan peradaban seakan memang didengungkan untuk menghancurkan Islam. Namun, bagaimanapun keadaannya, seharusnya kita tidak bisa menyalahkan ilmu pengetahuan (umum) itu sendiri dengan tidak lagi memandang ilmu umum sebagai produk kafir, karena seperti yang dikatakan Imam Ali, bahwa Hikmah adalah sesuatu yang hilang dari seorang muslim, siapa yang menemukannya ia berhak mengambilnya.

Dari kenyataan yang ada, kita sangat ketinggalan dengan pihak lain. umat Islam yang dahulu memimpin dalam masalah ilmiah dengan berbagai teori dan penemuan baru, kini sangatlah jauh dari jejak tersebut. bahkan ada kesan cuek dan menolak mentah-mentah terhadap berbagai pandangan baru yang ada dengan hanya mencukupkan diri membaca bacaan-bacaan keagamaann klasik karya ulama terdahulu; dan itupun tanpa mau mengkritisinya. sehingga alih-alih menelorkan teori atau karya yang baru, kita malah terjebak pada pengagungan terhadap karya-karya klasik. kitapun kahirnya mempunyai watak literalis, jumud serta anti perubahan. seharusnya, ketika kita membaca berbagai karya ulama yang ada dan juga Al-qur'an, kita menemukan semangat dari para ulama tersebut, bagaimana mereka berlomba dalam berkarya tidak hanya dalam ilmu-ilmu agama, namun juga dalam bidang social, sains serta ilmu umum lain.

Tentunya kita telah merasa dan menyaksikan bahwa sebagai umat Islam yang mendapat cap khaira ummah dari Allah, kita ternyata sangat lemah dan jauh dari cap tersebut. meski memang kita pernah mencapai kejayaan, dan peradaban kita memimpin dunia, namun saat ini kita hanya bisa berapologi dengan membanggakan masa lalu. sedang kenyataanya sekarang kita tertinggal jauh dengan umat atau bangsa lain. Sementara bangsa lain sudah berlomba dan berinovasi dalam berbagai bidang, kita masih terjerembab dalam soal apakah inovasi (bid'ah) itu boleh atau tidak. sementara bangsa lain sangat jauh dalam pembangunan dan pemberdayaan masyarakat dengan memajukan pendidikan, kesehatan, ekonomi dan kemiliteran, kita masih sibuk bertikai dan berebut klaim kebenaran. kita miskin, tapi tidak mau bekerja. kita bodoh tapi tidak mau belajar. kita juga terlalu egois kalau tidak mau dikatakan fatalis, dengan hanya mengutamakan akhirat sehingga kita di dunia hanya menumpuk ibadah-ibadah yang sifatnya individualistic-formal.

Jadi pemahaman kita akan ibadah sudah seharusnya diganti dengan pemahaman yang lebih luas dan realistic. apapun yang baik bagi diri kita dan orang lain harusnya kita niatkan dan kita pahami sebagai ibadah yang akan mendatangkan pahala dari sisi Allah, meski itu hanya seberat dzarrah. entah itu ibadah berlabel agama ataupun tidak. karena jika pemahaman kita masih seperti yang pertama, berarti kita telah mempersempit arti ibadah itu sendiri yang pada akhirnya kita akan merasa risih jika melakukan suatu ibadah yang tak berlabel agama. Dan inilah hal yang paling buruk yang sedang menimpa kita umat Islam.

apalah arti kita hidup di dunia ini?! Dunia adalah ladang akhirat dan untuk meraihnya kita harus bisa menjadikan dunia ini sebagai tempat ibadah.
wallahu a'lam bis showab.

Feb 19, 2010

Sikap Bijak Terhadap Realitas

Sebuah sikap bijak memang harus menjadi watak dasar bagi sebuah agama yang mengklaim sebagai sholih li kulli zaman wa makan jika tidak ingin agama itu menjadi sebuah agama yang local dan basi lantaran tidak bisa menjawab tantangan zaman. Sebagai sebuah agama yang mempunyai klaim seperti itu, umat Islam sebagai pemeluknya seyogyanya tidak menutup diri dari dunia luarnya dengan hanya mengandalkan doktrin-doktrin lama yang sebenarnya kebanyakan hanyalah hasil ijtihad dan pemikiran para ulama dalam menjawab persoalan masanya. Umat Islam seharusnya bisa lebih responsible terhadap relitas ataupun masalah yang semakin kompleks dan saling berkaitan satu sama lain dengan cara menempatkan suatu masalah tersebut secara proporsional.

Suatu masalah harus dijadikan sebagai suatu realitas yang memerlukan penjelasan dan jalan keluar yang cerdas. Realitas tidak bisa dihapus begitu saja dengan sebuah pendapat, fatwa, maupun nash keagamaan tanpa lebih dulu diselidiki latar belakang dan perubahan-perubahan yang melingkupi tealitas tersebut. Misalnya saja valentine yang kita nyatakan sebagai suatu bid'ah sesat, pendekonstruksian akidah, demoralisasi dan pembebekan terhadap Barat (Kristen).  

Dalam hal ini, saya menjumpai satu ulasan khusus tentang valentine yang ditulis oleh Saudara M. Risal yang sempat juga dipublish di salah satu edisi Buletin SAHARA, KKMI-Libya. Ia mengutip dari Swaramuslim bahwa awal mula dari peringatan valentine ini adalah dalam rangka mengenang jasa Pendeta St.Valentine, yang dihukum mati oleh pemerintah Romawi yang dipimpin Raja Claudius II pada tanggal 14 Februari 276 M. Hukuman ini dijatuhkan karena pendeta ini menentang qonun (undang-undang) kerajaan yang melarang pernikahan. Saat itu, raja menganggap bahwa para bujangan lebih tabah dan kuat dalam berperang dari pada mereka yang mempunyai istri. oleh sebab itu Raja melarang pernikahan. Pendeta St.Valentine ini tidak setuju dan malah sering menjadi "penghulu" bagi muda-mudi yang melangsungkan pernikahan.(salam dan info swaramuslim.net, Februari 2005).

Setelah mengetahui latar belakang dan maksud dari hari valentine tersebut, ia mencoba membandingkannya dengan realitas lain semisal hari raya Natal, Appril Mop, hari pahlawan, atau hari kemerdekaan dan sebagainya, serta tidak lupa mensinkronkannya dengan nilai-nilai Islam. Dan sebagai hasilnya adalah tidak adanya yang namanya dekonstruksi akidah, ataupun pembebekan kepada Barat (Kristen). Tapi yang penting adalah ‘cara’ dalam menyikapi dan menggunakan hari valentine tersebut.

Disini, saudara risal mencoba membahas atau setidaknya menengok kembali melalui sudut pandang lain. Tentunya dengan mengikutkan berbagai realitas sebagai acuan. Ia mencari sejarah dan substansinya untuk kemudian diperbandingkan dengan ajaran Islam. Adakah titik temu yang bisa diambil dengan lebih dulu memaparkan segi-segi negative maupun positifnya. Dari sini dipetakan konklusi permasalahan tanpa harus jatuh kepada penolakan mutlak maupun penerimaan yang kebablasan. Jadi penolakan tidak hanya berdasar "ini dari luar Islam" yang berarti ghairu Islamy dan tidak pula penerimaan mutlak yang berarti sebagai taqlid buta atau pembebekan.

Dalam berbagai kasus lainnya pun sebenarnya pola pikir dan sikap bijak seperti ini bisa diterapkan. Tidak hanya terbatas pada fenomena valentine saja. Wacana-wacana social-keagamaan yang lain yang telah menjadi realitas dalam kehidupan juga memerlukan penanganan yang cerdas pula. Demokrasi, civil society, HAM, sekulerisme, gender, pornografi, hingga fenomena kelompok-kelompok sempalan yang menjamur juga harus mendapat perhatian dan penanganan tidak hanya dari satu dudut pandang saja. Permasalahan-permasalahn tersebut harus didudukkan sebagai realitas, dicari latar belakangnya berikut factor-faktor yang mempengaruhinya. Kalaupun dikaitkan dengan Islam dan dicarikan solusi darinya, maka Islam juga harus didudukkan sebagai suatu realitas yang hidup yang selalu berdialog dengan zaman dan realitas lainnya.

Sekulerisme misalnya. Kita tidak bisa memandangnya dari satu sisi teologis saja lalu menghukuminya secara egois-sepihak. Sekulerisme memang lahir di lingkungan Barat-Kristen sebagai respon terhadap hegemoni pihak gereja dan absolutisme-nya atas masyarakat. Disamping pula karena kegagalan agama (gereja) dalam merespon problem-problem social masyarakat (Gamal Al-Bana, Al-Islam, wal hurriyah, wal Ilmaniyah: Tanpa Tahun). Dan ketika para pemikir independent menyerukan sekulerisme sebagai solusi dan beberapa diantaranya menjustifikasinya dengan ayat Bible, maka tidak bisa dinafikan pula solusi tersebut juga merupakan hasil dari penafsiran social atas realitas. Sehingga sekulerisme bukan hanya sebagai produk Barat-Kristen, tapi juga merupakan hasil pemikiran manusia lintas batas yang memungkinkan menjadi sebuah solusi bagi permasalahan yang sama yang dihadapi oleh masyarakat non-Barat-Kristen, termasuk umat Islam.

Namun ketika kita mencoba mengambil produk tersebut, kita tidak boleh menerima apa adanya tanpa terlebih dulu kita kritisi dan kita selaraskan dengan ajaran Islam dan realitas kita sendiri. Sehingga dengan ini kita tidak akan terjatuh pada westernisme ataupun sekulerisme ekstrim seperti kasus Turki karena sekulerisme jenis tersebut bertentangan dengan agama bahkan mematikannya. Istilah kasarnya kita harus mereduksi konsep sekulerisme itu sendiri dan menciptakan pemahaman baru yang sesuai dengan konteks kita. Mungkin inilah yang dicoba oleh Munawir Syadzali dengan menyodorkan istilah dan konsep ”proporsionalisme” atau juga ”obyektifisme” oleh Kuntowijoyo (Adian Husaini, Sekulerisme Penumpang Gelap Reformasi: 2000). Namun, jika sendainya sekulerisme telah dipahamai hanya sebagai pembatasan terhadap "absolutisme penguasa" atas nama agama, maka tidak ada salahnya kalau hal itu diadopsi sebagai solusi alternative atas realitas. Bukankah sejarah Islam juga mencatat adanya absolutisme atas nama agama yang telah meminta banyak korban?!

Dalam masalah jurisprudensi Islam (fiqih) juga seharusnya begitu. Fiqih yang berarti "pemahaman" terhadap ajaran Islam tidak semestinya dijadikan barang mati yang bebas nilai dan tidak boleh dikritisi kembali. Tapi sebaliknya fiqih harus selalu direfresh dan diaktualisasikan dalam menjawab tantangan zaman. Realitas harus diikut sertakan sebagai titik tolak dan acuan hokum disamping nash-nash keagamaan primer. Fiqih tidak bisa dilepaskan dari realitas. Oleh karenanya, paradigma fiqih harus diubah dari paradigma "kebenaran ortodoksi" menjadi "pemaknaan social" (Nuansa Fiqih Sosial: 1994) yang tidak memandang realitas secara hitam-putih. jadi fiqih bukanlah pemahaman dalam rangka menundukkan realitas kepada kebenaran fiqih itu sendiri beserta teori-teori formalnya, namun sebuah pemahaman bagaimana menggunakan fiqih sebagai "counter discourse" dalam pemaknaan realitas yang sedang berlangsung. dan inilah yang dilakukan Imam syafi'I ketika berpindah dari Baghdad ke Mesir, ia merekonstruksi pandangannya yang lama dalam Qoul Qadim dan menyusun pandangan baru yang disebut sebagai Qoul Jadid (Abdul Ghani Ad Daqr, al-Imam asy-Syafei: Faqih as-Sunnah al-Akbar: 1996). Disini ia telah merumuskan pandangannya kembali karena ia menemui realitas baru yang sama sekali berbeda dengan realitas dimana ia menyusun Qoul Qadim-nya dahulu. Adanya pengalaman dan unsure-unsur baru yang tidak ditemukan dalam masyarakatnya yang lama turut pula memotivasi Imam Syafi'i dalam penyusunan Qoul Jadid-nya.

Memang banyak ulama sendiri yang cenderung menutup diri dari realitas kontemporernya seraya hanya bergantung pada hasil ijtihad ulama salaf. Hal ini mereka lakukan dengan asumsi bahwa La Ijtihad Fi an-Nash al-Qath'I dan anggapan seakan fikih telah selesai dan telah lengkap. padahal pernyataan ini juga merupakan hasil pemikiran-ijtihadi terhadap nash, bukan pernyataan nash itu sendiri. Bahkan sebenarnya para ulama sendiri berselisih paham apakah nash qoth'I tidak boleh diijtihadi secara mutlak atau bisa meski dalam batas-batas tertentu.

Menurut Muhammad Imarah dalam bukunya Islam wal Mustaqbal, nash qoth'I juga mempunyai ruang-ruang yang memungkinkan untuk ijtihad. Ia memberikan konsep Wilayah as-Tsubut wa al-Mutaghayyirat dimana wilayah as-tsubut adalah wilayah yang tidak bisa diutak-atik lagi. Sedang sebaliknya, wilayah al-mutaghayyirat merupakan arena yang bisa di ijtihadi. Wilayah as-tsubut adalah yang berkenaan dengan aqidah prinsip, ibadah dan hal-hal yang berkaitan dengan ke-ghaib-an yang ada dalil qoth'inya dimana akal tidak bisa memasukinya. Kemudian wilayah al-mutaghayyirat adalah wilayah diluar hal-hal diatas. Termasuk hal-hal kemasyarakatan yang berhubungan dengan kemashlahatan manusia didunia serta hal-hal yang bisa dinalar oleh akal, meskipun telah ada dalil qoth'inya.

Suatu produk hokum ketika dipandang sudah tidak relevan lagi dengan maqashid syari'ah yang ditetapkan Islam, maka seyogjanya diijtihadi kembali dan disesuaikan dengan realitas kekinian. Hal ini bukan berarti merubah inti hokum yang dikhawatirkan akan merubah Islam itu sendiri. Namun, kita berusaha menyelaraskan hokum tersebut sesuai realitas yang melingkupinya, sehingga problem yang ada bisa dipecahkan. Dalam hal ini, menarik sekali perdebatan yang masih tetap berlangsung tentang masalah poligami. Beberapa ulama menyandarkan kebolehannya berpoligami berdasarkan ayat-ayat Al-qur'an. Bahkan dengan gigih mengatakan: jika ada yang menggugatnya, berarti ia menentang Al-qur'an yang selanjutnya berarti menentang Allah. Padahal kalau kita mau mengamati pendapat yang mencoba menggugat hokum tersebut, kita akan menemukan bahwa pendapat mereka juga tidak asal-asalan saja dan tidak pula berarti menentang Al-qur'an ataupun merubah Islam. Mereka hanya memandang dari sisi lain atas ayat-ayat Al-Qur'an serta relitas poligami yang terkesan cenderung destruktif. Sehingga ketika realitas poligami menunjukkan dampak yang seperti itu, maka wajar jika mereka mencoba untuk mencari solusi yang pas. yaitu dengan merekonstruksi kembali pemahaman akan poligami (Lih. Cahyadi Takariawan, Bahagiakan Diri Dengan Satu Istri: 2007).

Oleh karenanya, terlepas dari berbagai perdebatan dan perbedaan pendapat, seharusnya dengan semangat fiqih yang hidup, para ulama bisa menjadikan fiqih sebagai alat yang solutif dalam menjawab problematika zaman yang terus berkembang dan kompleks ini. Tidak hanya bersandar pada pendapat-pendapat lama yang kadang sudah expired masa berlakunya tapi juga berusaha berijtihad dan berinovasi agar Islam tetap sholih li kulli zaman wa makan. Dan disinilah urgensi sikap bijak dalam memandang suatu masalah ataupun realitas.

Wallahu a'lam bis showab.

Other Articles