Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Nov 13, 2010

Beragama dengan Santai

“Ayo sini.. Naik..”
Tangan penjaga klenteng melambai-lambai memanggil saya dan beberapa kawan yang tengah berkunjung ke Klenteng Dewi Kwan Im di Belitung. Klenteng yang dipercaya para lajang untuk berdoa mendapatkan jodoh. Letaknya diatas bukit. Anak-anak tangga melingkar ke atas menuju bangunan utama klenteng.

”Mau sembahyang?”
Saya mengangguk. Agak ragu.
”Tapi ajarin ya?” Pinta saya pada sang penjaga.
”Cuci tangan dulu di situ..” Si penjaga menunjuk sebuah wastafel yang menempel pada dinding pintu masuk.
”Ambil ini..” Perintahnya sambil mengasungkan kaleng penuh hio.
”Ambil berapa?” Saya bertanya penuh semangat.
”12. Mau dibakarin?”
Saya mengangguk.
”Nanti taro 3-3 ya. Di depan sana samping kiri kanan sama di depan patung sini. Sambil baca doa. Apa yang mau diminta.” Si penjaga memberi petunjuk dengan rinci.
Saya mengikuti petunjuknya. Membawa batangan hio yang telah dibakar dengan dua tangan tertangkup di depan dada. Asap tipis mengawang di udara. Saya menghampiri meja-meja altar dengan lilin-lilin besar tegak di kana kiri meja. Patung-patung budha bertubuh tambun dengan mimik lucu terduduk di hadapan meja bersama sebuah baskom kuningan besar berisi abu tempat menancapkan batangan hio.
Saya membagi hio di genggaman tiga-tiga. Merapal beberapa kalimat sakti. Membungkukkan badan tiga kali. Menancapkan tiga batang hio pada baskom besar berisi abu tempat beberapa hio lain telah tertancap. Membayangkan adegan-adegan dalam film-film Cina.
“Mau diramal?” Si penjaga kembali bertanya.
“Eeemmm… liat yang lain dulu deh..” Saya ragu-ragu. Meski penasaran juga.
Seorang teman yang selesai melakukan ritual yang sama tanpa ragu berkata:
“Saya mau, Koh, diramal..”
“Sini..” si penjaga tak kalah semangat. “Mau doa sendiri atau didoain?”
“Didoain, saya gak tau bacaannya..”
“Sebutin nama, umur.. terus lagi punya masalah apa biar dibantu jalan kluarnya sama Dewi Kwan Im.”
“Diomongin, apa dalam hati aja?” Teman saya bertanya ragu.
“Diomongin aja.” Si penjaga menjelaskan.
“Engg... anu.. nama saya... umur... lagi ada problem sama kerjaan... bla.. bla...” Teman saya mulai curhat.
“Eh, untung gue belum jadi diramal. Bisa ketauan rahasia gue..” Saya berbisik pada teman disebelah saya. Kami terkikik.
Curhatan teman selesai. Si penjaga berkomat-kamit melafalkan sesuatu dalam bahasa Tiongkok. Tangannya menggenggam tabung bambu berisi bilah-bilah bambu tipis beraksara Cina. Mengocok-kocok tabung tersebut hingga salah satu bilah bambu mencelat keluar. Si penjaga membawa bilah bambu itu pada rak berisi lembaran-lembaran kertas beraksara Tionghoa. Ia mencocokkan tulisan pada bilah bambu dan amplop-amplop kertas yang berjajar pada rak. Setelah mendapatkan kartu yang pas ia menarik secarik kertas yang ada di dalam amplop. Secarik kertas bertulisan Melayu.
CIAM SI No. 31
Naga dan macan berjumpa di dalam hutan. Walaupun tidak membahayakan tapi pasti ragu.
Kini sebaiknya tenang saja di dalam rumah hingga datangnya suasana yang tentram.
Teman yang diramal mengangguk senang. ”Cocok kok ramalannya..”
Ia tersenyum puas sambil menyelipkan selembar limapuluhribuan pada kotak uang yang nongkrong di meja.
”Eh lu kok gak ikut sembahyang?” Saya bertanya pada teman saya yang berperawakan Cina.
”Lagi dapet.” Ia menjawab cepat.
”Emang kalo lagi dapet gak boleh ya?” Saya sempat merasa berdosa. Mengingat saya pun tengah dalam kondisi yang tak suci.
”Tergantung masing-masing sih. Ada yang percaya ada yang gak..” jawabannya sedikit menenangkan saya.
“Lu juga gak sembahyang?” tanya saya pada teman yang lain. Laki-laki yang juga berperawakan Cina. Bahkan namanya pun masih menggunakan nama Tionghoa.
“Ih.. gue gak sembahyang begituan kali. Tiap Minggu gue dah ke gereja. Lagian gue juga gak ngerti sama yang beginian..” Ia tampak enggan dihubung-hubungkan dengan ritual di klenteng ini.
”Eh, Dewi Kwan Im-nya kayak apa sih, Koh?” Saya bertanya penasaran pada si penjaga.
”Lha itu..” Ia merujuk pada gambar besar dengan pigura kaca. Tertempel di sudut ruangan. Seorang putri cantik berjubah putih berdiri diatas kepala naga yang tengah meliuk-liuk di tengah samudera. Sosok sang Dewi mengingatkan saya pada Nyi Roro Kidul. Ratu cantik penguasa laut Selatan di Jawa.
”Asalnya dari laut sana.” Si penjaga melanjutkan. Menunjuk ke luar klenteng. Pemandangan lautan terhampar dari altar halaman depan ruang utama klenteng.
”Eh namanya siapa Koh..?” Saya bertanya mengakhiri.
”Aliong.”
”Kamsia ya Koh..”

****

Hari Minggu menjadi hari yang spesial buat saya selama tinggal di Oslo. Pada hari itu saya memiliki agenda rutin berkunjung ke gereja-gereja yang ada di kota ini.
Ada beberapa alasan mengapa saya melakukan aktifitas ini.
Pertama, saya tak ingin rugi menganggurkan kartu bulanan saya. Kartu yang bisa digunakan untuk seluruh moda transportasi publik di kota Oslo. Trem, subway, bus, hingga feri yang bisa mengantar kita melihat-lihat fjord dan pulau-pulau kecil di sekitar Oslo. Dengan membeli kartu bulanan kita juga akan mendapatkan diskon yang cukup besar dibanding membeli kartu eceran harian atau pass sekali naik. Meski, kalau anda tak sering bepergian atau justru lebih banyak bepergian keluar kota, kartu bulanan anda tentu akan menjadi mubazir.
Nah, saya termasuk orang yang tak mau merugi dengan kartu bulanan itu. Maka meski hari Sabtu atau Minggu saya usahakan pergi meski tanpa tujuan. Wisata keliling kota dengan berpindah dari satu moda transportasi ke moda transportasi lain. Tak ubahnya seperti kelakukan Mr. Bean yang tengil dan pelit itu lah..
Kedua, plesiran ke gereja bisa menjadi salah satu alternatif membunuh waktu yang jitu di hari Minggu. Sebagai negara dimana para buruh menjadi penguasa, hari Minggu adalah hari bagi para buruh memanjakan diri. Along the day. Beberapa aktivitas mulai menurunkan intensitasnya pada hari Sabtu dan benar-benar berhenti pada hari Minggu. Kota menjadi sepi. Gedung-gedung tutup. Hampir tak ada toko yang buka. Kalaupun ada harganya menjadi luar biasa.
Diantara sedikit gedung yang buka pada hari Minggu adalah gereja. Mayoritas gereja di kota ini adalah gereja Protestan. Semua gereja akan melakukan misa pukul 11 siang. Misa dilakukan dalam bahasa Norwegia. Kalaupun ada yang dalam bahasa Inggris biasanya pada petang hari. Itu pun sangat jarang. Satu-satunya gereja Katolik (yang saya tau) dan melakukan misa dalam bahasa Inggris ada di pusat kota. Misa dilakukan pada pukul lima sore hari. Katedral ini konon dibangun khusus diperuntukkan bagi para tenaga kerja asal Filipina (TKF) yang menjadi tenaga kerja cukup berpengaruh di Norwegia. Kisah sukses juga banyak mengalir dari para TKF ini. Banyak dari mereka yang berhasil beralih kewarganegaraan dengan mengawini warga asli Norway.
Ketiga, pengalaman pertama saya yang awalnya secara iseng pergi ke gereja dekat asrama tempat saya tinggal pada akhirnya memberi efek candu bagi saya. Pergi dari satu gereja ke gereja lain memperkaya pengetahuan saya akan seni arsitektur di kota ini. Sebanyak gereja yang saya kunjungi, tak ada satupun arsitektur yang sama. Begitu beragam dan unik. Mulai dari yang sangat cozy dengan kayu-kayu Norwegia yang terkenal sangat kuat namun juga hangat yang melapisi seluruh ruangan dalam gereja, atau gaya Romawi kuno dengan ruangan beratap tinggi dan kaca-kaca patri di atap yang memberi kesan cahaya matahari berpendar dengan cantik. Salah satu gereja bahkan ada yang bergaya sangat posmodern hingga sama sekali tak mirip dengan bangunan gereja ataupun seperti rumah ibadah konvensional. Gereja yang mendapat sejumlah penghargaan untuk desain bangunan tersebut juga dimasukkan dalam salah satu dari seni kontemporer di Oslo.
Selain, saya juga suka sekali mendengar hymne-hymne yang dinyanyikan pada saat misa di gereja-gereja tersebut. Membandingkan satu paduan suara dengan paduan suara lain yang sangat bervariasi. Pada momen ini saya juga bisa bertindak gila dengan ikut bernyanyi-nyayi dalam bahasa Norway yang tak sepenuhnya saya mengerti. Sementara lyric hymne bisa dengan mudah didapat lewat selebaran atau booklet yang dibagikan pada saat jemaat masuk ruangan atau telah tersedia di masing-masing bangku jemaat.
Saat tetirah gereja ini saya juga mendapati sebuah gereja yang dipimpin oleh seorang pendeta dan petugas yang semuanya perempuan. Meski jemaatnya tidak hanya perempuan. Mimbar khotbah pun dibuat unik. Menggantung di salah pilar besar dan tinggi. Pada saat khutbah, pendeta perempuan yang masih muda dan cantik itu naik ke atas mimbar yang menggantung tersebut. Dengan suara yang merdu ia menyapa jamaat yang ada di bawahnya. Sinar matahari yang masuk lewat salah satu kaca atap memberi siluet indah. Saat jubah putih tipis sang pendeta berkibar menerawang diiringi koor paduan suara yang syahdu, saya seperti tengah syuting dalam salah satu adegan ”Lord of the Ring” bersama peri cantik di tengah hutan.
Omong-omong soal bahasa Norway, komuni-komuni dalam gereja inilah yang dengan baik hati menyediakan kursus bahasa Norway secara gratis. Saya sempat ikut komunitas ini. Menambah jaringan pertemanan sekaligus bisa sedikit mengirit bea makan malam. Pada setiap pertemuan secara berkala akan digilir juru masak dari para anggota yang berasal dari beragam negara. Anggota lain yang tak memasak hanya diminta sumbangan a la kadarnya dan bantu bersih-bersih selesai acara. Maka selain bisa belajar menyapa dengan bahasa Norway paling dasar saya juga punya kesempatan untuk mencicipi aneka penganan dari beragam negara. Tortilla a la Meksiko, pasta Italia, atau salmon saus jeruk a la Norwegia.
Meski, ada juga momen yang tak begitu saya sukai saat mengikuti ibadat misa di gereja-gereja tersebut. Saat para pendeta menyampaikan khotbahnya. Dalam bahasa Norway dan durasi yang cukup lama. Membuat mata ingin mengantuk.
Juga saat kantong-kantong amal (dengan beragam bentuk. Masing-masing gereja juga punya desain kantongnya sendiri-sendiri) mulai disebarkan petugas dan jamaat merogoh recehan disakunya untuk disumbangkan secara sukarela. Saya kerap tak enak hati bila hanya mendiamkan tangan saya. Untuk menyiasatinya, lagi-lagi saya gunakan aksi tengil dan pelit-nya Mr. Bean. Meraih kantong yang diasongkan, memasukkan tangan ke kantong dengan sedikit kocokan sehingga sedikit bunyi dentingan koin terdengar seolah-olah baru saja memasukkan beberapa koin ke dalam kantong, lalu segera mengangsurkan kantong ke jemaat di samping saya.

****

”Eh lu masih sholat kan?” Tanya teman yang lama tak bertemu dan terkejut melihat penampilan baru (sekaligus cantik) saya :)
”Ih kayak emak gue aja pertanyaan lu..” Saya menjawab dengan tertawa.
Selama menjadi musafir di Eropa harus diakui cukup sulit (kalau tidak dikatakan malas) buat saya menjaga ritme keberlangsungan shalat. Apalagi memasuki musim panas yang jadwal shalatnya bisa sangat amburadul. Magrib bisa jam 9 atau 10 malam. Isya pukul 11 atau 12, dan subuh pukul 2 pagi.
Sementara keinginan saya untuk bisa berziarah ke Kota Mekkah dan Madinah tak jua terkabul, visa Schengen saya malah mendamparkan saya sampai ke Vatikan. Ikut ramai merayakan Paskah dan antri menyemut dengan satu tujuan yang sama dengan ribuan pengunjung lain. Bertemu Paus baik yang masih hidup atau yang sudah terpendam bersama batu-batu pualam ciamik di lantai dasar Basilica.
Kembali ke tanah air persoalan beragama menjadi soal yang (dibuat) rumit. Hubungannya tak lagi antara saya dan Tuhan saya. Tapi melibatkan juga orang-orang sekitar yang ikut sibuk ingin tahu dan mengatur bagaiman hubungan antara saya dan Tuhan saya seharusnya berjalan. Garis hubungan ini makin menjadi benang kusut bila anda kebetulan seorang perempuan. Sejumlah list do and don’t atas nama agama menjadi tuntutan bagi para perempuan untuk dilakukan dan bahkan didesakkan untuk menjadi undang-undang.
Belum lagi sentimen keagamaan yang telah ditanamkan sejak kecil. Menjadi ajaran yang terus mengendap di alam bawah sadarnya. Tak heran bila dalam pergaulan kesehariannya, bocah-bocah tersebut sudah mampu mengidentifikasi agamanya menjadi agama yang terbaik dan menjadi teropong untuk mengukur agama orang lain. Bila ia bermain dan bertemu dengan sesuatu yang berbeda dengan adat dan tata laku agamanya, ia bisa dengan spontannya berkata: ”Ih.. pantesan dia begitu. Dia kan agamanya A/B/C...”
Begitupun sebelum memutuskan untuk mengidolakan seseorang, pertanyaan (entah sadar atau tidak) pertama yang sering muncul adalah ”Agamanya apa sih?” Kalau ternyata berbeda dengan agama yang dipeluknya maka akan ada kalimat lanjutan: ”Ih.. sayang ya? Padahal dia kan baik..”
Agama juga menjadi identitas yang (diharapkan) terus melekat pada diri seseorang bersama-nama dengan nama dan status seseorang. Saat berobat dan (terpaksa) menjadi pasien rawat inap sebuah rumah sakit ”beragama” di Jakarta, setelah menanyakan nama dan status perkawinan saya, sang juru rawat bertanya, ”Agamanya apa?”
Saya yang tak melihat adanya korelasi antara penyakit yang diderita dengan kepercayaan yang dipeluk seseorang mendapatkan sedikit petunjuk mengapa pertanyaan tersebut diajukan. Rupa-rupanya disediakan para penyiram rohani yang akan mendatangi pasien-pasien yang membutuhkan. Apakah kedatangan para juru selamat tersebut pada akhirnya berdampak baik atau buruk bagi si pasien? Entahlah. Yang jelas saya lebih membutuhkan ketenangan dengan tidur dibanding mendengarkan khotbah.
Fikiran kotor juga kerap muncul, bagaimana ya kira-kira reaksi orang-orang bila saya bilang di KTP saya tertulis Islam, tapi saya kerap ikut misa di gereja dan sembahyang di klenteng? Apakah saya termasuk dalam kelompok Islam beraliran sesat? Apakah saya telah melakukan perbuatan syirik dengan menyembah tuhan selain dari tuhan yang telah diajarkan pada saya sejak saya mengenal huruf dan aksara?
Ah, tapi saya (mencoba berapologi) tak sedikitpun merasa berdosa saat pergi ke tempat-tempat ibadat itu. Sangat excited malah. Tak ada suara-suara berisik dalam diri saya yang terus mengingatkan seperti bila saya harus melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nurani saya.
Buat saya, pertanyaan hakiki yang layak muncul berkaitan dengan perilaku “sinkritisme suka-suka” saya dalam beragama adalah; ”Apakah tuhan-tuhan yang telah saya kunjungi di klenteng, gereja-gereja dan katedral, mushalla dan mesjid-mesjid itu adalah tuhan yang berbeda?”
(Hm, saya belum punya kesempatan mengunjungi sinagoge. Kalau ada tawaran untuk bisa pergi langsung ke Jerussalem dan ikut merintih di tembok ratapan, boleh juga.. :))
Pertanyaan hakiki lainnya berkaitan dengan agama seperti yang pernah diajukan seorang teman suatu ketika. Saat kami terjebak dalam kemacetan lalu lintas sementara Jakarta dihantam hujan badai. Setelah ngobrol ngalor-ngidul dan selingan sumpah serapah mengutuk kemacetan yang makin menggila, tiba-tiba ia bertanya, ”Sebenarnya apa sih fungsi agama?”
Sebuah pertanyaan klasik. Nietzsche telah melakukannya dengan membuat metafora orang gila yang berlari-lari di tengah pasar dengan obor di tangan untuk mencari (dan membunuh) Tuhan. Atau Marx yang mengkritik agama sebagai wahana alienasi manusia dan alat penindas dari penguasa.
”Kalau cuma untuk melarang orang untuk tidak mencuri, membunuh atau berlaku kriminal lainnya, tak perlu agama dong.. Itu kan sudah jadi ketentuan universal. Secara manusiawi pasti ada batasan bagi orang untuk bertindak yang merugikan hidup orang lain..”
Teman saya melanjutkan gugatannya.
Saya mengiyakan saja. Sementara pikiran saya mengawang-awang. Teringat catatan pinggir Goenawan Mohammad suatu ketika. Saat ia mengutip Kant untuk mengulas pertanyaan yang kurang lebih sama seperti yang diajukan teman saya.
”Apa guna Tuhan?”
Lamunan saya juga sampai pada deretan huruf yang pernah dipakai untuk kampanye salah satu kelompok kerukunan antar umat beragama.
”Tuhan agama mu apa?”
Terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut (demi Allah) saya tak punya jawaban pasti.. :)

Tulisan ini diambil dari note di FB : Syafa'atun Aisya

Apr 14, 2010

T.e.r.o.r.

Oleh: Syafa'atun Aisya


I

“Mbak, duduknya biasa aja..” Seorang petugas datang menghampiri dan menegur saya.

“Ha?! Apa..?” Saya terbengong-bengong tak mengerti.

“Duduk lu tu. Gak boleh cross leg,” kawan duduk di sebelah saya mencoba menjelaskan.

“Duduknya, mbak. Kakinya biasa aja. Dah pake rok, duduknya begitu lagi,” petugas kembali mengingatkan saya.

“Kenapa?” Saya bertanya balik. Kembali tak mengerti.

Apa yang salah? Saya mengenakan rok selutut pagi itu. Dan merasa tak ada yang salah dengan gesture tubuh saya. Saya sengaja berdandan dengan sopan pagi itu. Mengenakan blus putih lengan panjang, rok hitam selutut, bersepatu, dan duduk manis mengikuti jalannya sidang.

Tak boleh silang kaki. Ya, tapi kenapa? Ada aturan untuk tak boleh duduk dengan kaki silang ya? (Atau takut terjadi adegan buka kaki seperti dalam “Basic Insting”? Tapi saya kan pake underwear. Dan rasanya-rasanya tak sejenjang Sharon Stone). Sementara laki-laki di belakang saya mengenakan celana jeans dan duduk bersila. Punggung bersandar santai. Pengunjung lain yang sibuk ribut berkomentar terhadap pernyataan para saksi ahli juga dibiarkan.

Insiden itu langsung mengubah mood saya. Konsentrasi saya buyar. Saya tengah hadir pada acara persidangan uji materi UU PNPS di MK. Omongan Ulil yang tengah menjelaskan kasus Mutsailamah al Kahzab, orang yang mengaku nabi pada masa kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq mengawang di udara.

Selain Ulil Abshar Abdalla, ada Mudji Sutrisno, Emha Ainun Najib, Mahendradata, dan lain-lain yang tak saya ingat namanya. Mereka dihadirkan sebagai saksi ahli baik dalam posisi yang pro atau kontra terhadap UU ini.

Saya mainkan kamera mengusir kemuraman saya. Mode manual terpasang. ASA 800, speed 1/15. Jepret sana sini. Meski tak ada sudut istimewa. Sementara terus menahan keinginan kaki yang kadang gatal ingin disilangkan.

II


Sidang break untuk Shalat Jum’at. Palu di ketuk. Pekikan “Allahu akbar!” segera menggema.
Saya bergegas turun dari balkon atas. Pengunjung di lantai bawah ramai. Pengunjung dengan atribut jubah dan sorban merangsek masuk ruang sidang. Peserta sidang keluar satu persatu.
Keriuhan terjadi saat peserta sidang yang pro pencabutan UU mencoba keluar ruangan.

“Kafir!”
“Murtad!”
“Bunuh aja. Halal darahnya.”
“Copot aja jilbabnya. Islam apaan tu. Gak pantes!”

Beberapa orang mengacung-acungkan tangan. Petugas keamanan gedung berusaha menenangkan.

“Udah.. Udah.. Sholat jumat..”

“Kalo mereka ma ketahuan gak sholat..”

Teriakan terus bersahutan. Saya berada dalam keriuhan pemuda-pemuda tanggung dengan urat leher yang mengeras. Kata-kata kotor berhamburan dengan mudahnya. Sempat merasa ngeri saya berusaha mencari gambar.

Mereka tampak sadar kamera. Senang dengan beragam alat yang dengan segera merekam aksi mereka. Gambar bergerak atau gambar diam. Keberadaan saya, perempuan dengan rok selutut, rambut tergerai, dan baru saja ditegur petugas dengan posisi duduk yang (dianggap) tak pantas, tampaknya bukan masalah. Mereka senang saya turut ambil bagian merekam aksi mereka.


III

Ulil sibuk menelpon atau ditelpon seseorang.
Aura kecemasan meruap di ruang yang dikhususkan bagi para saksi ahli.

“Pastikan Ulil bisa keluar dengan aman.”
“Lewat belakang aja..”
Beberapa kawan ikut sibuk mengatur strategi.

“Bawa mobil, Mas?”
“Gak. Pake taksi.”
“Lewat belakang aja, Mas. Nanti kita kawal.”
“Ok, Amanda mana?”

Ulil bergegas pergi. Makanan dan minuman yang terhidang tak tersentuh. Makalah dan buku catatannya tertinggal.

“Takut juga Ulil ya?” Saya bertanya naïf.
“Gak punya basis massa sih..” Seorang kawan merespon pertanyaan saya. Guyon.
“Mungkin juga ya,” Saya ikut tertawa.

IV

“Mereka itu serius mau ngebunuh orang ya?” Saya kembali bertanya pada teman seperjalanan saya. Lagi, pertanyaan yang naif.

“Lu gak inget kasus Monas kemarin. Mereka bisa mukulin orang kayak gitu.”

Saya ingat insiden itu. Saat mereka memukuli lawan-lawannya persis seperti maling ayam yang tertangkap basah. Perilaku sadis yang mengingatkan saya pada potongan-potongan gambar peristiwa kerusuhan. Film Rwanda. Beberapa kerusuhan seputaran saya tinggal. Perang antar geng preman karena rebutan jatah. Saat satu kelompok ingin menghabisi kelompok lain. Dengan alat-alat tradisional. Sementara negara lumpuh tak berdaya.

Hidup dalam teror. Bagaimana anda menjalaninya?

Dulu, ancaman bunuh membunuh ini sempat juga mampir ke kotak surat saya. Sudah lama sekali. Saat saya masih aktif mengikuti mailing list yang membahas tentang kebebasan dalam berkeyakinan. Milis itu pun sudah lama tak saya sentuh. Sama seperti nasib keanggotaan saya pada beberapa milis. Mata saya tak punya cukup energi untuk membaca surat-surat yang terus masuk.

Entah dari mana si pengirim mendapatkan alamat surat saya. Saya acuh saja. Menganggapnya sebagai surat nyasar yang tak ada bedanya dengan kiriman surat-surat aneh yang meminta donasi untuk keluarga perang atau saya dinyatakan menang lotre oleh sebuah akun internasional.

Tapi setelah lebih dari sekali surat itu masuk, dengan jelas menyebut nama saya, dan membuat bulu kuduk saya meremang membaca kata-katanya, saya putuskan untuk menutup alamat surat tersebut.

Saya bayangkan hidup menjadi Ulil. Dengan fatwa halal darahnya bagi orang-orang tertentu. Yang bisa tiba-tiba hilang nyawa di tangan orang tak dikenal. Dikeroyok ramai-ramai seperti maling kesiangan. Sementara, layaknya film-film India, aparat keamanan bertindak saat rumah telah hangus terbakar.

Saya ingat Munir. Untuk kasus yang berbeda. Hidupnya akrab dengan ancaman. Matipun dijalaninya dalam terror. Pembunuhnya tetap dibiarkan misteri.

Apa yang bisa diurus dengan benar di negeri ini?

V

“Pengalaman pernah ke Turki, apa bedanya dengan Jakarta?” Seorang teman bertanya.

“Angin di Turki memang sedang berhembus ke kanan. Setau gue gak “senorak” ini lah kelompok kanannya. masih enjoy sama sekularisme (Attaturk ok banget untuk hal ini). Banding di sini? ampun bener deh.. “

Balas saya. Dalam konteks menguatnya gerakan agama dalam negara.
Meski menjawab pertanyaan ini serasa menjawab pertanyaan, bagaimana rasa ketoprak dengan soto ayam?

Anda bisa menemui mesjid dimana-mana di Turki. Dengan arsitektur yang mirip (membuat saya kerap nyasar saat mematok sebuah mesjid sebagai penanda jalan). Istanbul bahkan disebut-sebut sebagai kota seribu mesjid. Tapi tak ada aturan yang mewajibkan anda menghentikan aktifitas saat shalat jumat tiba. Atau kewajiban mengenakan “pakaian takwa”. Malahan, bagi para perempuan, jangan pernah berharap akan disediakan mukena di mesjid untuk shalat.

Beberapa agenda untuk lebih menampilkan citra islami memang mulai didesakkan kelompok kanan. Seperti dibolehkannya jilbab masuk di institusi-institusi formal pemerintahan (meski ada juga peraturan-peraturan aneh yang diberlakukan untuk asrama-asrama putri yang lebih ketat dari pesantren).

Pertarungan politik ini terjadi tingkat pembuat undang-undang. Saya tak melihat kelompok-kelompok masyarakat yang show off gembar-gembor syariat Islam di jalan (jangan sampe kejadian deh. Dan kayaknya gak laku juga di masyarakat. He.. Ngomongin Turki jadi pengen balik.

Tentang hal ini seorang kawan lain memberi gambaran menarik:
“Turki sedang dipengaruhi ikhwanul muslimin, makanya gayanya ngga norak, sama kaya gaya PKS or menti menkomiinfo kita, perlente abis. yang ada di (sini) ini gaya afganistan, dekil, norak dan membabi buta..”

Hm, Afganistan, akankah kita menuju ke sana?

diambil dari situs IslamLib

Mar 13, 2010

Sore Itu

Di ufuk barat matahari telah memerah, mengguratkan suatu keindahan di sudut-sudut langit yang terlihat seakan menyatu dengan bumi. Menebarkan suatu kehangatan di hamparan pasir yang diselingi beberapa pohon dan rumah penduduk. Sementara angin gurun berhembus lembut, suaranya membisikkan pada alam suatu keheningan, mengantarkan senja sore ini bersama awan kelabu yang merayap beriringan.

Di pojok luar kamarku aku duduk sendiri, sambil bertopang dagu Kubiarkan mataku menyusuri, keagungan pesona seni ini; seni yang tak akan bisa ditiru, oleh mahluk sepertiku. Aku tak tau apa yang sedang aku pikirkan, pikiranku terlanjur menerawang jauh, mengikuti kemana angin berlalu.

Senja sore ini memang sangat indah, hingga pikirku "tak mungkin kumelewatkannya". Bagiku, Seakan ia seorang dewi yang turun menemani kesendirianku, membelaiku, dan menawan hatiku. Dan masih kuperhatikan gerak alamNya, hingga diriku semakin lebur didalamnya. Tak habis pikir dan tanya, buat apa Tuhan menciptakan ini semua.

"andai kau disini".

tiba-tiba terbersit namanya dalam hati. Burung-burung yang terbang pulang ke tempat mereka belajar mulai mengepakkan sayap-sayapnya, menyeretku kembali pada suatu yang mencoba untuk kusingkirkan, membuka memori lamaku, tentang seseorang:
"Dya, apa kau masih ingat aku?"

sungguh, hatiku luruh setiap kali teringat namanya. Mataku meradang merah, menahan perasaan yang meluap di pelupuknya. tapi, semuanya telah terjadi dan berlalu, dan memaksaku harus pergi jauh, hingga dia yang disana tak bisa untuk kusentuh.

Teringat saat aku tanpa sengaja bertemu, di pinggir sebuah pantai karang berbatu. Kutanya nama dan siapa dirinya. Sampai akhirnya datang embun pagi yang membuka pintu hati. Sebuah bisikan yang ingin menjadikannya bunga yang selalu mekar, semerbak wanginya di tengah gurun yang telah tersiram oleh air cinta. Hinga suatu hari, timbul rasa ingin mengungkapkan getaran-getaran yang sering menyesakkan dada. Getaraa-getaran yang menghampiriku sejak beberpa bulan yang lalu. Ya setelah perkenalan itu. Sungguh tak bisa untuk ku mengelak , apalagi membunuh lalu menguburnya. Getaran-getaran itu datang begitu saja, membayangi hari-hariku, dan merasuk dalam relung jiwa lalu bersatu dengan diriku.

Memang benar apa yang dikatakan orang cinta itu indah, yang bisa membuat orang gila karna keindahannya. Memberikan surga dengan para bidadari dan dayangnya. Melambungkan khayalan tertinggi menembus batas-batas dunia seperti seorang pecandu yang kehilangan akalnya.

Dan Memang kini aku seperti oarng gila, bahkan mungkin benar-benar gila, entah kemana akalku?!.

"he, lo nglamun aja." kuingat saat itu tiba-tiba temenku menegur dari belakang, membuatku kaget.

" ah, enggak ngapa-ngapa kok" kujawab enteng seolah memang tidak ada yang kupikirkan.

"mikirin dia ya, udah bilang aja lah…" lanjutnya sambil berlalu di hadapanku.

***

Tak terasa waktu terus berputar, detik berganti menit, jam dan hari pun bersaing menyusul, satu minggu telah lewat begitu saja. Aku tak ingat apa-apa. Aku yang saat itu sedang berada di kampong hanya mondar-mandir tanpa tau apa yang harus dikerjakan. Aku pusing, mungkin karena sudah cukup lama mengenal enaknya sesuatu yang bernama JAKARTA, lalu kini harus diam di rumah. Tak ada kerja, teman juga entah kemana, ditambah lagi dengan udara musim panas yang semakin menggila. Memang sih, beberapa hari terahir ini, langit berhias mendung, awan hitam menggulung-gulung, tapi tak terlihat tanda akan turunnya hujan yan diharapkan. Seakan alam sedang bermain-main dengan manusia.

Kusaksikan para petani yang telah lelah menunggu tetesan kehidupan mereka dari langit, terdengar hanya menggerutu dan pasrah pada nasib. Tapi selalu saja mereka katakan penuh pengharapan "semoga saja hujan turun", hingga entah karena apa, tiba-tiba Tuhan pun menyuruh sang Malaikat untuk menurunkan butir-butir bening kesejukan dari langit, meski sangkaku itu hanya cukup untuk membersihkan udara yang telah penuh dengan debu kemarau.

Tapi yang kusangka ternyata salah. Mungkin langit sedang bersuka hati, menyaksikan kami memanjatkan beribu terima kasih, pada Tuhannya yang juga Tuhan kami. maka gerimis pun terasa masih enggan untuk berhenti, bahkan setelah kelompok-kelompok hewan malam mulai berhamburan mencari makan, menggantikan saudara-saudaranya yang harus pulang. Sementara aku selesai sholat maghrib, temanku di Jakarta memberi kabar kalo keberangkatan ke libya sepuluh hari lagi.

"waduh, mati aku. Belum siap-siap lagi" gumamku kaget.

Ya tiga bulan lalu aku memnag mendaftar dan alhamdulillah bisa mendapat kesempatan untuk melanjutkan studiku di negeri hijau ini. Tapi meski begitu, toh tak urung kabar yang mendadak ini membuatku deg-degan juga.

Sebenarnya sebelum maghrib tadi aku akan menelpon dia, aku ingin dia tau isi hatiku, tak peduli apakah dia memang satu hati atau malah nantinya akan bertepuk sebelah tangan cintaku ini. Semuanya telah kurancang, mulai kalimat apa yang harus kuungkapkan, intonasi suara, sampai kemungkinan jawaban yang akan dia berikan. Tapi Ahh... semua itu kini berantakan. Rancangan tinggal rancangan, yang mengendap dalam lapisan otak dan perasaan, seperti nasib tanah yang kini sedang terbawa aliran air hujan. Oh, Tuhan....

Kembali ku teringat dia, kuarahkan mataku pada selembar foto yang ada diatas meja kecil dari kayu jati yang ada dalam kamarku. Wajahnya meski tidak secantik para bintang di televisi, namun ia bagai bulan purnama yang bersinar melewati dinding-dinding kegelapan malam. Ia terlihat begitu ayu dengan jilbab birunya. Matanya yang bening mampu menundukkan tatapan2 mata liar yang ingin menerkamnya. Senyumnya yang lembut nan anggun berkuasa mendamaikan jiwa2 yang mudah terpesona oleh nafsu yang meraja.

Kutarik nafas dalm-dalam, mencoba membuang sesak yang mulai bergemuruh dalam jiwa. Lalu kuhembuskan pelan-pelan, kurasakan hawa yang mengalir dari paruku melewati tenggorokan dan rongga mulut, menyeret keluar sebagian beban yang menyumbat katub nafasku.

Jendela kamar yang kubiarkan terbuka, membawa belaian-belaian angin yang sejuk. Udara dalam kamar yang biasanya selalu bikin gerah itu kini digantikan dinginnya gerimis yang dari sore tak kunjung reda. Suaranya berpadu dengan gemericik air yang jatuh dari atas genting. Mengesankan aku yang sedari tadi dengan pikiran kosong berdiri dekat jendela.

"Mengapa tak kau telpon saja dia!!" Pikirku.

"dan ungkapkan perasaanmu".

"ah, itu tidak mungkin".

Lagi-lagi aku bingung sendiri. Merasa ragu untuk mengatakannya atau tidak. Setelah menerima kabar tadi, aku semakin bimbang. Bagaimana mungkin aku kan mengatakannya, sedang tak lama lagi aku akan meninggalannya. Bayangan jarak yang jauh dan waktu yang lama seakan menjelma menjadi tembok yang menghalangi mulutku untuk berteriak, membuka suara. Kalaupun nanti dia menyambut uluran hatiku, aku pun tak kuasa untuk membuatnya menderita, hanya sekedar menunggu.

"tapi apa kau pernah berpikir, bagaimana kalau seandainya ia juga suka kamu?! dan selama ini ia telah tersiksa dengan kebisuanmu?!". tanyaku pada diri sendiri.

Aku merasa sebagai seorang pengecut, yang telah kalah sebelum berlaga. Aku hanya mampu meratapi ketidakberdayaanku ini, tanpa mampu tuk kepalkan tangan. mungkinkah Aku egois, yang tidak mau tau perasaannya?. atau Aku terlalu phobia, Takut dengan kenyataan?

Dan malampun semakin merangkak naik. Tapi gerimis masih saja menemani kebisuanku.

****

"Assalamualaikum." suaraku terdengar agak pelan.

"waalaikum salam"

"eh, kakak, kapan datang di Jakarta?" tanyanya kaget sambil diiringi senyum manis. Ku lihat sinar kegembiraan terpancar dari wajahnya yang agak kecapean.

"baru kemaren. maaf ya nggak telpon dulu," kataku sekedar basa-basi.

"kok kayaknya capek gitu?!" tanyaku.

"iya, habis bantu ibu," bilangnya.

Kemudian, sambil mempersilahkanku duduk ia lalu menuju kedalam.

Rumah yang sangat nyaman itu, sepertinya tidak sebanding dengan ukurannya yang menurutku sedehana dan biasa saja. Lantainya yang hanya tertutupi semen selalu bersih dan ramah menyambut setiap kaki yang menginjaknnya. Cahaya yang cukup dan udara yang selalu terganti melalu jendela menghilangkan kepenatanku walau sejenak. Rumahku surgaku. Kata-kata yang tepat untuk istana ini.

Sesaat kemudian Dya membawa keluar segelas air putih, disusul ibunya dari belakang meski saat itu hanya sekedar menyapa. menurutku Ibu Dya sangatlah ramah, meskipun baru dua kali ini aku berkunjung kerumahnnya. Yang pertama saat aku akan pulang kampung dulu. Sebenarnya tujuanku datang kerumahnya, disamping silaturrahim, juga ingin bicara dengan seseorang yang telah beberapa bulan menggelisahkan jiwa. Membuat hari-hariku indah dengan kebingungan yang kupendam. Aku ingin dia tau bahwa namanya kini telah terpatri dalam hati. Aku mau dia tau semuanya, meski mungkin nanti harus menelan pahitnya empedu, atau petir akan menyambarku. setelah ngobrol beberapa saat hatiku mulai bergejolak.

"ayo, bicaralah!!" bisikan hatiku merongrongku, membuatku gemetar ragu.

"eee. …. Dya, besok lusa aku akan pergi. Aku akan berangkat ke Libya." suaraku terputus-putus. Dadaku bergetar hebat. Aliran darahku mengalir cepat.

"Ah, bodohnya aku. bukan itu yang ingin kukatakan." Kukatai diriku sendiri dalam hati. seribu makian serasa tak cukup mengganti ketololanku ini.

terlihat wajahnya agak berubah. entahlah, aku tak tau pasti sebabnya. tapi, aku kira aku salah bicara. mungkin aku telah menyisipkan suatu kekecewaan di hatinya.

"ah, aku benar-benar menyesal. bodohnya aku !!".

"kak, apa bener mau pergi?!" pertanyaannya terasa berat. sementara itu aku terdiam, sulit rasanya untuk menjawabnya.

"ya, insyaAllah. do'ain saja biar semuanya baik-baik saja".

"ya, semoga".

kami terdiam. matanya terlihat agak melebam pucat lalu setitik embun menetes melewati pipinya.

"dya, maafin aku ya." sambil kuulurkan selembar tissue berharap ia mengerti semuanya. sesaat kemudian ia lalu kutinggalkan sendirian, tak ada hadiah untuk kenangan, tak ada harapan yang kujanjikan. semuanya kupendam, tak tahu apa yang harus kulakukan. hanya doa dan sebuah buku catatan kugenggamkan di tangannya yang memberanikanku ucapkan perpisahan.

"dya, maafin aku...." lirih hati mengiringi langkahku.

Hari Sabtu malam, aku berangkat bersama teman-teman yang lain, membawa selembar harapan dan segenggam impian baru, meski aku masih terbayangi oleh coretan-coretan kemarin yang buram. Mungkinkah dengan perpisahan ini aku bisa melupakannya?!

****

kini aku telah berada di negeri yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya, tak terkira perasaanku, hingga kutulis nyeleneh "rasanya nano-nano". tapi, apakah aku telah benar-benar siap menjalani hidupku di sini, hidup yang tak hanya sekedar makan tidur dan berleha-leha dengan impian yang muluk-muluk. hidup yang mengharuskanku mengucurkan keringat bahkan darah. "perubahan" bukankah ini tujuanku kesini?!.

dan hari-hari itu pun telah berlalu bahkan telah genap setahun. sementara itu, sampai saat ini ternyata aku belum bisa melupakannya. dan tanpa sadar, ternyata waktu berputar cepat meninggalkanku dibelakang. sering aku hanya terdiam memandang keluar kamar saat senja mulai menghantarkan matahari sembunyai diujung barat sana. dan saat itulah, tiap sore kusaksikan sang waktu terbang melambaikan tangannya seraya mengucapkan selamat tinggal padaku.

saat sadar, kupanggil ia untuk kembali, tapi lidahku telah kaku. pita suaraku terbakar oleh ribuan teriakan tak tentu. habis sudah semuanya. yang tersisa hanyalah kekuatan sekedar tuk bersandar menyaksikan rona merah langit yang indah. menemaniku merajut kenangan dan harapan yang hanya ada dalam khayalku. Dan ketika sampai hari ini, masih saja sore itu melambaikan tangannya, tapi seakan bukan hendak meninggalkanku, namun mengajakku bangun dan berkata "kejarlah aku !”.

dan kurasa sore itu begitu indah.

Feb 25, 2010

Khayalku Bisu II


Setulusnya aku, akan terus menunggu
Memanti sebuah jawaban tuk memilikimu…


Dingin hari ini semakin menyeruak. Matahari yang terang tak mampu menghangatkan tubuh-tubuh yang menggigil beku. Bahkan dengan balutan jaket tebal yang kubeli dari pasar jum'at pun masih tak kuasa menahan hawa beku yang tanpa ampun menusuk-nusuk tulang sumsumku. Aku sudah tak konsen dengan pelajaran yang disampaikan ustadz. Serasa aku ingin keluar saja dari kelas, tapi masih kutahan.

Sementara ustadz bersemangat denagn ceramahnya, kukeluarkan HP yang ada disakuku. Kupencet-pencet keypad mencari nama. Beberapa detik kemudian suara musik terdengar nyaring lalu secepat kilat ku tekan end call. Si Boy yang duduk di belakangmu tampak kaget dan langsung melihat kearahku dengan muka kesal. Akupun hanya nyengir menyunggingkan senyum puas. hehehe…. sejenak, kamu yang juga tampak kaget ikut memandang kepadaku. Saat aku tau itu, kuisyaratkan padamu dengan telunjukku bahwa berikutnya mungkin kamu hingga lngsung saja kamu silent nokia birumu itu.

"mau saja dicandain…"pikirku.

Mungkin dalam hatimu kamu mengataiku sebagai orang Bengal.." tapi tak apalah usil sedikit. kalau nggak gitu kan nggak asyik. haha...

Tampak ustadz yang terpaksa menghentikan bicaranya itu sedikit terbengong heran. Tapi sebelum ia melanjutkannya, aku yang sedari tadi sudah menahan capek tak ingin kesempatan itu menjadi sia-sia. Aku spontan saja minta izin untuk keluar. dengan langkah seolah terburu-buru aku berjalan memutar dari belakang lalu lewat disampingmu sambil kuberikan sobekan kertas kecil.

"tolong bukuku dibawa ya…"

Kemudian kubuka pintu dan dari luar dengan pelan kukembalikan ia seperti semula. Bebaaaaas… itulah ungkapan yang kurasakan. Wuuhh…. Mungkin kamu heran dengan sifatku ini. Bolos kok bangga ?! tapi masak kamu nggak tau aku sih….?! sudah setahun lebih kita disini bersama, seharusnya kamu sudah tau hal itu. Tapi entahlah, kamu memang sulit aku mengerti…. Atau aku yang memang sulit kamu mengerti. Bagimu aku seakan orang yang baru kamu kenal kemarin sore. Ya walaupun kita tak jarang juga saling tanya. bicara tentang kuliah, pelajaran, bahkan sampai tentang diri kita terutama sifat malasku karena sering bolos atau kabur ditengah pelajaran. Kadang kamu juga bilang padaku mencoba menasehatiku supaya jangan sering ngelakuin hal bodoh itu. Kamu bilang nanti aku bisa rosib, gagal atau mukafaahku dipotong. Kalau sudah gitu bisa mampus riwayatku, bilangmu diiringi senyum tipis saat itu.

Sebenarnya aku juga nggak pengen bolos atau kabur seperti itu. Apalagi jaminannya mukafaah ; nggak kebayang bagaimana jadinya jika dua bulan harus selalu gali lubang atau hanya bisa menelan ludah, oughh.. naudzu billah. Aku juga telah berusaha supaya bisa nglakuin seperti apa yang kamu bilang itu. Tapi bagaimana ya jelasinnya…. yang pasti aku nggak bisa diam bertahan dalam kelas yang bagai penjara itu. Lagi pula aku punya prinsip bahwa ilmu tak hanya dikelas; tapi dimana saja. Aku yakin kamu juga berprinsip sepertiku. Coba bayangkan, kita dalam kelas hanya duduk dan diam layaknya robot. sedang ustadz, lihatlah mereka banyak yang seperti pengkhotbah. Hanya membaca buku, mendikte sambil menyuruh kita mencatatnya, padahal mengajar bukan hanya itu kan…?!. Aku jadi bingung sendiri, mengapa kita harus menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendengar ceramah yang sulit dicerna. Bahkan menghabiskan sepertiga umur dalam kelas hanya untuk omongan-omongan yang bikin kita berujar haahhhh… cape’ dech!!

Seperti biasa, pasti kamu akan menjawab semua ini dengan nada heran. lalu kamu akan bilang kalau aku orang yang kurang baik, tidak sopan, tidak menghargai ustad, keminter, dsb… Aku tau kamu pasti akan begitu karena maaf saja, aku tidak seperti kamu yang tak bisa merasakan perasaanku. Aku bisa bilang begini karena memang aku tau kamu, paham sifat-sifatmu meski kadang-kadang kamu menang sulit dimengerti. Dan aku juga tau kalau kamu mendengar ini, kamu mungkin akan bilang aku seorang egois, sok tau atau dengan kata-kata lain yang sejenis itu.

Hah, egois.. ?! benarkah aku egois ?! bukankah kamu yang lebih egois ?! kamu selalu memandang aneh padaku. Kamu nggak bisa mengerti perasaanku. Bahkan kamu telah menyakitiku, membuat hati ini seolah ditusuk-tusuk duri jahannam lalu kamu tinggalkannya untuk diinjak-injak dijalanan. Disaat aku semakin bingung dengan menunggu responmu, kamu ternyata malah memilih dan membuka tanganmu untuk dirinya. Apa kamu buta , hingga aku yang dihadapmu seakan tak pernah ada ?! jangankan membalas cintaku, merasakannya pun tidak bahkan kamu malah memberikan hatimu padanya. Sudah berapa lama sih kamu mengenalnya ? sebulan, dua bulan atau memang dia telah mendahuluiku berjuang menahlukkanmu ? oh bodohnya aku ini. Ternyata aku belum tau benar siapa kamu sesungguhnya.

****
aku tak bisa luluhkan hatimu
dan aku tak bisa menyentuh cintamu…


Lama kutertegun memikirkan nasibku. Sementara hati ini belum ingin beranjak dari lamunanku tentangmu, aku harus rela menerima kenyataan yang kini telah mencabik-cabik cintaku. Matahari yang telah udzur dengan menyisakan senja merah terasa sangat indah. Sangat indah seandainya saja akulah yang terpilih untuk memiliki hatimu. Diiringi belaian angin sepoi dingin, aku tak kuasa menahan deraian air mata. Ternyata aku yang biasanya tampak cuek bisa juga lembek. Ingin sekali kuhapus airmata ini tapi bayanganmu selalu membuatnya kembali menetes. Aku memaki diriku sendiri mencoba lari dari bayanganmu itu. sebenarnya apa sih hebatnya dirimu ? istimewamu ? biasa aja, jawabku dalam hati.

Sejak kita saling kenal hingga kamu mulai menyihir jiwaku, aku tahu sikapmu padaku tak berubah, biasa saja. Kamu tetap lebih suka diam, menunduk dan tidak banyak bicara meski kadang juga bibirmu terbuka untuk senyum atau sedikit tertawa. Juga wajahmu yang biasanya menjadi ukuran cinta seseorang juga masih sama. Hampir tak ada yang berubah. Hanya saja kalau aku perhatikan setiap hari kamu semakin manis. Padahal wajahmu itu kan tidak diganti atau dioperasi hingga menjadi secantik cewek-cewek Libya atau Julia Estelle yang wuuuhh itu. Lalu kenapa aku harus cemburu saat kamu jadian dengannya ? entahlah…

apa itu tanda jatuh cinta ? kembali entah karena aku juga tidak tahu apa itu cinta dan aku rasa aku belum pernah bertemu dengannya. Aku hanya tau dari mereka yang pernah mengalaminya atau dari roman-roman semisal : tenggelamnya kapal Van Der Wick dan dibawah lindungan ka’bah –nya HAMKA atau ayat-ayat cinta-nya El-Syirazi yang kamu pinjamkan aku itu. Kata mereka cinta adalah mahluk yang paling misteius di dunia ini, awalnya sangatlah manis tapi akhirnya sangatlah pahit. Sedang pengalaman sendiri, jujur saja aku belum pernah merasakannya kecuali setelah bertemu denganmu. Dan kini aku benar-benar merasakan apa yang mereka katakan. .

Tahukah kamu apa yang membuatmu menarik ?! ternyata sikap biasamu itu. Sekian lama kita di sini, ternyata kamu tetaplah kamu. Kamu yang dulu, kemarin dan sekarang. Sangat menakjubkan. Tak habis pikir ternyata itulah yang membuatku penasaran hingga aku rela berkorban lebih untukmu. Tapi sayangnya kamu tidak menyadarinya. Kamu tidak bisa merasakannya. Ah… salahku juga sih aku terlalu sopan –kalau tidak mau disebut banci- hingga takut tunjukkan isi hatiku padamu. Kuakui memang aku tak tau bagaimana ungkapkan rasa ini kecuali lewat sikap dan perhatianku padamu selama ini. Masih ingatkah kamu pada tulisan yang pernah kamu baca dibukuku dulu ?! sebuah tulisan yang kamu pakai untuk meledekku !! kamu menertawaiku bahwa aku bak seorang revolusiner:

"idealisme cinta adalah sikap yang bisa menembus tembok hati tanpa sebuah kata atau pena"

apa kamu ingat ini ?? tahukah kamu ternyata ia kini kau telanjangi kebodohannya di depan realita. Bahkan akhirnya kamulah yang benar karena realitas cintaku tak cukup dengan sebuah sikap. Ia harus dipaksa keluar lewat lisan ini dengan serangkaian kata, kalimat dan simbol-simbol yang jelas atau lewat goresan pena dengan huruf-huruf kapital besar bahwa really "I LOVE YOU". Mungkin dengan semua inilah kamu baru bisa tahu keinginanku.

Namun kembali kuingin menangis jika teringat kisahku ini. Kisah yang sangat menyedihkan karena di saat kusadari semua kesalahanku,, ternyata hatimu telah tertambat di ujung labuhan lain. Kini kamu disana telah berdua, sedangkan aku masih sendiri disini. Ya Tuhan…. Kenapa aku ini ?!

Ah, sudahlah !! aku capek memahamimu. Biarkanlah aku adalah aku dan kamu adalah kamu. Aku ingin kembali kekehidupanku, sebagai Aku. Tentang kamu, biarlah aku hanya bisa melirik dan mengagumimu dari jauh saat kamu duduk menunduk, atau mungkin memilikimu nanti saat taqdir memihakku. Mungkin juga bisa kutulis dalam buku catatanku bahwa ceritaku hanya ada dalam khayalku yang bisu.

............... The End ......................

* Lyric By Padi

Feb 18, 2010

Khayalku Bisu I


Aku tak bisa luluhkan hatimu..
Dan aku tak bisa menyentuh cintamu..


Biru, salah satu warna favoritmu selalu memberi khas pada setiap gerakmu. Dipadu kontras gelap kemejamu dg garis2 tegak simetris yg senada dg warna biru jilbabmu itu tak ubahnya langit dg taburan bintang berkilauan. Kalau boleh aku bilang, sbenarnya pakaianmu itu kayaknya sudag lama. Hanya saa mungkin karena kepintaranmu merawatnya saja sehingga masih kelihatan bagus. Dan kalau boleh aku teruskan lagi, baju2 yg lainpun nasibnya sama saja. Tapi aku salut, kok, biarpun kamu cuma pakai yg itu2 saja, namun tak bikin mataku ini bosan. Tapi, apa benar kamu memang tidak punya pakaian yg lainnya lagi?! Marak kalau tidak biru itu, ya, pink, merah hati, atau satunya lagi itu, apa warnanya?? Huhh.. Entahlah. Cobalah pakai yang lain, yg sedikit modis lah !! Apa mungkin sengaja kamu simpan untuk stock tahun depan, atau kamu tidak dapat kiriman..?? Jangan tersungging ya, eh tersinggung maksudku ! Hahaha, Aduh...

Sudahlah, tak usah kau tanggapi ocehan2ku tadi karena apa yg kamu pakai itulah dirimu. Sosok yg bisa dibilang sdikit kolot, atau seperti apa yg mereka bilang itu ?? Ya, konservatif yg tidak tahu zaman, mode ataupun style2 masa kini yg serba minimalis dan ek0n0mis dg sedikit bahan baku hingga "udel"nya kelihatan. Juga lebih baik kamu tetap seperti itu, seperti bunga yg selalu mekar jauh dari tangan2 jahil yg ingin memetiknya. Menjadi diri sendiri jangan menjadi ORLA. Lagipula, kalau gayamu itu dirubah, rasanya tidak akan cocok sama sekali dg pribadimu. Kamu itu kan tidak bnyak omong, tidak glamour dan euuhh... Super sopan meski agak sdikit sensitif, menurutku.

Seperti biasa, saat aku masuk kelas, aku pasti melihatmu telah duduk di tempat pilihanmu itu. Sikapmu yg super s0pan dan lebig sering menundukkan diri seolah kamu sedang berpikir atau membaca coretan2 kecil di secarik kertas buram. Dg berdiri sbentar kuucapkan salam dg datar. Bahkan terdengar lirih karena suasana kelas yg sdikit bising oleh keasyikan teman2 lain. Aku tidak peduli apakah salamku terdengar atau tidak, juga tidak peduli mereka menjawabnya atau tidak. Yg penting sebisaku kuucapkan salam.

Masih belum beranjak dari pintu, kuedarkan pandanganku sekilar melihat kebiasaan2 kita di kelas ini. Hanya dua puluhan yg sudah stand by di kelas, hitungku. Sedang sisanya, pastilah mereka masih di jalan atau memang enggan beranjak dari mimpi2 indah dalam balutan selimut tebal. Apalagi pagi ini udaranya benar2 gila. Tanpa kendali ia menyetir tubuh ini untuk menggigil menahan beku. Kalaulah aku tidak sadar, mungkin aku akan seperti mereka. Lebih baik tidur dari pada seperti ini. Toh, kuliah jarang ada absensi, juga seperti biasa kita hanya disuruh menampung jutaan huruf yg kadang tak bisa kita mengerti. Iya toh?!

Di pojok sana kulihat teman kita, si Tanzani sedang sibuk membersihkan meja dan kursinya dari selimut debu. Lalu, di depan sbelah kirimu ada si Filibini dan Komari yg sedang ngobrol entah dg tema apa. Lalu tak lupa pula pandanganku ini menuju padamu. Hmmm.. Rasanya kalau sehari saja tak memandangmu, kurasa seperti ada sesuatu yg kurang. Tapi, ah, Kau ini... Hanya melihatku seperti itu saja?! Tak adakah sesuatu yg lain?? Ya, walaupun itu hanya senyum kecilmu ? Senyum yg selalu aku nanti setiap kali memandangmu. Aku jadi bertanyä2 sendiri, sulitkah kamu untuk menggerakkan bibirmu sdikit dg agak menariknya ke tiap sisi kiri kanannya?! Susahkah merubah raut wajahmu yg terkesan frigid agar sdikit lebih enjoy and friendly?? Ya, sedikiiíttt saja =)

aku sangat bingung dg dirimu. Apa kamu tak pernah tahu apa arti senyummu itu bagiku? Atau mungkin kamu pikir senyummu hanya skedar angin lalu yg berhembus hilang?! Kamu sungguh salah jika mengira begitu. Bagiku, senyummu adalah embun hangat hatiku di musim dingin ini. ia bagai hembusan angin yg membuat api semangatku semakin berkobar. Ia bagai opium yg membuatku tenang, damai dan memberikan kekuatan padaku di setiap langkahku. Apakah kamu tidak tahu ini semua? Walau hanya untuk sekedar merasakannya saja?! Tidakkah sama sekali ?!! Ya Tuhan... Aku tidak percaya ini. ternyata Aku biasa saja di matamu. Aku tak yakin setelah apa yg aku lakukan selama ini tidak membuatmu tersadar dan kamu masih menganggapku hanya sebatas teman. Ya, sekedar teman, seperti si Ufa, Ali, Elea, atau juga Boy boy yg lain. Bullshit !!

****
Sesaat aku menuju tempatku. Kutaruh buku2ku di atas meja. Muqarrar, diktat yg membuat jenuh itu, kubiarkan diam saling tumpuk. Aku tampak lesu berselimut dingin. Kulirik kamu yg masih diam bagai patung sang dewi, hanya kadang2 kamu menengok ke arah pintu setiap kali ada orang yg lewat.

"Kalau saja ada yg bisa kulakukan, tidak akan suntuk seperti ini. Pagi2 sudah BeTe," batinku.

"ah, ini semua gara2 kamu. Tapi salahku juga kenapa memikirkan orang seperti kamu !"

inginku mendekatimu, mengobrol seperti biasa sambil menunggu kedatangan dosen. Namun, sekejab kuurungkan niatku ini karena aku sudah merasa down lebih dahulu. Kubiarkan kamu diam di sana dan akupun tak beranjak dari tempatku. Kutarik nafas yg terasa dingin dalam2. Kuisi paruku sepenuhnya dg udara. Huffttt...

"aku suka tetapi tidak mau bicara. Bukankah ini lucu?!" tanyaku dalam hati.

Iya. benar, sih, aku memang menyukaimu. Tapi hati ini masih bimbng, masih takut. Mungkin saja ini hanyalah cinta2 m0nyet atau cint2an dan aku hanya dipermainkan perasaan. Aku tidak ingin cinta ini sekedar jadi pacaran, skedar jadi pengalaman.

"ah, betapa naif cintaku ini, " pikirku. Aku ternyata hidup dalam sebuah mimpi. Mimpi yg tak akan pernah terwujud hanya dg harapan kamu akan tahu isi hatiku. Fiuhh... Brengsek !! Kenapa sih kamu tidak bisa merasakannya ?!!

Kuambil selembar kertas lalu kucoba menulis sederet bait puisi dari sebuah lagu favoritku :

betapa pilunya rindu menusuk jiwaku
sem0ga kau tahu isi hatiku
dan seiring waktu yg terus berputar
aku masih terhanyut dlm mimpiku...


...... To be continued ......

* maap posting cerita lama. Mungkin udah kadaluarsa. Haha.. tapi, dari pada enggak.
** Lyric by Padi

Other Articles