Showing posts with label info. Show all posts
Showing posts with label info. Show all posts

Nov 19, 2010

Kisah Rombongan DPR dan TKW

Cerita pilu Sumiati, tenaga kerja wanita yang disiksa majikannya di Arab Saudi, menghias halaman pemberitaan media beberapa hari ini. Sikap abai ternyata bukan hanya milik para majikan yang kejam di negeri orang. Para wakil rakyat, yang menjadi anggota parlemen karena dipilih oleh rakyat, pun menunjukkan sikap abai saat rakyat yang memilihnya tengah kelimpungan di negeri seberang.

Rombongan Anggota DPR yang tengah melakukan kunjungan kerja ke Moskwa, Rusia, dilaporkan ”menelantarkan” seratusan lebih tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia yang tengah kebingungan di Dubai. Di antara para TKW itu ada yang kedua tangannya melepuh karena disiram air keras oleh majikannya di Arab Saudi. Sementara, satu orang TKW lainnya mengalami pendarahan di perut.

”Mereka egois sekali. Tidak ada satu pun yang peduli dengan nasib rakyat yang mereka wakili yang tengah kebingungan. Mereka menelantarkan para TKW di Dubai,” tutur Adiati Kristiarini, seorang warga Indonesia yang mendampingi para TKW, dalam perbincangan dengan Kompas.com beberapa waktu lalu.

Ia menceritakan, peristiwa itu terjadi pada Sabtu (6/11/2010). Ia bersama suaminya transit di Bandara Dubai dalam penerbangan New York-Jakarta. Di Gate 206 Bandara Dubai, mereka menunggu keberangkatan Pesawat Emirates dengan nomor penerbangan EK 358 tujuan Jakarta yang dijadwalkan berangkat pukul 10.25 waktu setempat.

Di situ, menunggu pula rombongan TKW yang jumlahnya ia perkirakan sekitar 150 orang. Adiati mengetahui kemudian, ternyata para TKW itu tidak saling kenal dan tidak pergi dalam satu koordinasi kelompok rombongan. Secara kebetulan saja mereka bertemu di bandara. Ada juga rombongan anggota DPR yang hendak pulang seusai melakukan studi banding ke Rusia.

Rombongan tenaga kerja indonesia tengah menunggu keberangkatan pesawat menuju Jakarta di Bandara Dubai, Sabtu (6/11/2010).

Kebingungan
Sekitar 30 menit menunggu, tutur Adiati, ada pengumuman bahwa penerbangan ke Jakarta dibatalkan karena lalu lintas udara Indonesia tidak aman akibat letusan Gunung Merapi. Oleh Emirates, para penumpang diarahkan menuju hotel. Dari sinilah kepanikan dan kericuhan dimulai. Para TKW itu bingung. Mereka tidak tahu harus berbuat apa, sementara petugas Emirates dirasa kurang informatif.

Menurut Adiati, sebelum tiba di Hotel yang terletak di luar bandara, mereka harus melewati sejumlah prosedur. Inilah yang membingungkan para TKW sebab banyak di antara mereka tidak bisa berbahasa Inggris. ”Para TKW itu adalah orang-orang sederhana dan lugu. Mereka kebingungan. Saya dan beberapa orang Indonesia lain lalu spontan saja berinisiatif membantu mereka,” ujar Adiati.

Inisiatif membantu para TKW yang jumlahnya seratusan ini ternyata dilakukan sporadis oleh sejumlah orang Indonesia yang ada di situ. Agus Safari, seorang peneliti yang juga transit di Dubai dari Rusia, menceritakan dalam e-mail-nya kepada Kompas.com, prosedur dari bandara menuju hotel memang terasa berbelit.

Pertama, para penumpang harus antre untuk mendapatkan visa sponsorship. Setelah itu, mereka harus menjalani cek imigrasi. Seusai urusan imigrasi, mereka harus datang ke satu loket untuk mencap kartu visa. Kemudian, harus antre lagi untuk scan mata di satu sudut yang jaraknya cukup jauh dari counter cap.

Sejumlah orang Indonesia, tutur Agus, secara spontan pontang-panting mencoba mengarahkan para TKW yang kebingungan. Suasananya sangat riuh. Di tengah keriuhan, menurut Agus, rombongan anggota Dewan terlihat duduk berkelompok di sudut ruang tunggu, sementara kartu visa mereka dikerjakan oleh agen tur mereka. Agus mengenali mereka sebagai anggota DPR sebab ia satu pesawat dalam penerbangan dari Rusia. Temannya di Kedutaan Besar Rusia memberi tahu Agus soal rombongan ini.

Tidak tergerak

”Saya heran, kok mereka tidak tergerak ya mengatasi rakyat yang memilih mereka sedang panik dan bingung. Mereka hanya tertawa-tawa dan ngobrol, dan saya sempat mendengar celetukan mereka saat saya sedang mengarahkan para TKW ini, ’ya, kita bermalam di Dubai ini sekalian saja untuk menghabiskan sisa rubel (mata uang Rusia)’. Masya Allah...,” cerita Agus.

Di antara orang Indonesia yang spontan membantu para TKW ada juga Riny Konig. Ia juga transit di Dubai dalam penerbangan dari Swiss. Menurut Riny, karena kesulitan komunikasi, para TKW ini banyak yang dibentak-bentak oleh petugas bandara.

”Di sebelah saya ada orang-orang Indonesia dengan paspor biru. Mereka diam saja melihat para TKW dibentak-bentak. Kok, ya enggak ada hati orang-orang ini,” tutur Riny saat berbincang dengan Kompas.com, beberapa waktu lalu, dengan nada jengkel.

Adiati, Agus, dan Riny mulanya tidak saling kenal. Mereka dipertemukan oleh spontanitas menolong para TKW yang kebingungan. Ada sejumlah orang Indonesia lainnya yang juga spontan membantu secara sporadis. ”Hanya faktor rasa kebangsaan dan kemanusiaanlah yang membuat kami berbuat,” kata Agus.KompasDotCom
"Saya heran, kok mereka tidak tergerak ya mengatasi rakyat yang memilih mereka sedang panik dan bingung"-- Agus Safari


Saya dari Moscow, Tugas Negara
Seusai keruwetan berurusan dengan administrasi Bandara Dubai, rombongan penumpang pesawat Emirates dengan nomor penerbangan EK 358 yang batal terbang menuju Jakarta akhirnya tiba di Hotel Holiday Inn, tidak jauh dari bandara, Sabtu (6/11/2010).

Foto sejumlah TKW dan anggota DPR di Dubai. Kiri, seorang anggota DPR tengah berjalan dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana di Hotel Holiday Inn, Dubai, Minggu (7/11/2010). Tengah, perempuan yang mengenakan jaket kuning dan berjilbab adalah tenaga kerja wanita Indonesia yang kedua tangannya melepuh disiram air keras. Matanya pun memerah karena di colok majikannya. Ia baru bekerja satu minggu di Madinah dan dipulangkan. Kanan, rombongan anggota DPR tampak berkerumun di pinggir jendela di Hotel Holiday Inn, Dubai, Minggu (7/11/2010).

Di sini, para TKW kembali gaduh. Lagi-lagi mereka bingung dengan urusan pembagian kamar. Riny Konig, Adiati Kristiarini, Agus Safari, dan sejumlah orang Indonesia kembali turun tangan mengatur mereka yang kebingungan.

Dalam perbincangan dengan Kompas.com, beberapa waktu lalu, Riny Konig menuturkan, saat mereka tengah sibuk mengoordinasi seratusan TKW, tiba-tiba seorang perempuan menegurnya.

”Bu, tolong, dong, dibilangin rombongannya jangan ribut, malu-maluin negara aja, kan enggak enak ribut begitu,” tegur perempuan itu kepada Riny.
”Rombongan mana, Bu?” tanya Rini.
”Itu, rombongan TKW,” kata perempuan itu.
”Lha, saya bukan TKW, Bu. Saya ini ingin pulang ke Indonesia, berlibur, kebetulan bertemu dengan mereka. Mereka ribut karena bingung Bu, banyak yang bertahun-tahun enggak pulang, kasihan. Ibu mau liburan juga?” tanya Rinny.
”O enggak, saya baru pulang dari Moskow, tugas negara,” kata perempuan itu yang menurut Rinny hanya tetap berdiri tanpa ikut membantu para TKW yang gaduh karena bingung. Belakangan, Riny tahu perempuan itu adalah anggota DPR yang habis melakukan studi banding di Moskwa, Rusia.

Mereka menginap di hotel itu satu malam. Selama satu malam itu pula Riny, Atik, Agus, dan kawan-kawan Indonesia lainnya mendata satu-satu kamar para TKW yang jumlahnya sekitar 150 orang. ”Hampir setiap jam kami berhubungan dengan informasi hotel, apa itu untuk membantu mereka urusan kamar, urusan telepon, urusan makan, shuttle bus ke Dubai City untuk menukar uang dan belanja minuman dan snack karena di hotel mahal,” terang Riny.

Tangan melepuh dan pendarahan
Sementara, Adiati menceritakan, di antara para TKW itu ada seorang TKW yang kedua tangannya melepuh disiram air keras oleh majikannya di Arab Saudi. Matanya pun merah karena dicolok oleh majikannya.

”Saya lupa namanya. Dia dari Karawang. Baru satu minggu kerja sudah mendapat kekerasan dan dipulangkan. Ia tidak punya bekal uang sama sekali. Cuma bawa tas kecil berisi dua potong pakaian. Ia diam terus, tidak banyak bicara. Kasihan sekali,” tutur Adiati.

Selain itu, ada pula seorang TKW yang perutnya mengalami pendarahan. Namanya Ipah. Ia sebenarnya sudah memiliki janji dengan seorang dokter di Jakarta untuk operasi pengambilan kista di perutnya pada hari Senin (8/11/2010). Adiati yang mendampingi Ipah selama bermalam di hotel menceritakan, Ipah terus berbaring selama menunggu kepastian terbang.

”Tidak ada satu pun anggota Dewan yang terhormat itu menaruh perhatian pada nasib dua TKW ini. Mereka pasti tidak tahu karena memang tidak pernah mau tahu,” ucap Adiati kesal.

Bapak, kan anggota DPR

Esoknya, Minggu (7/11/2010), ”relawan” Indonesia dan para TKW melakukan ”konsolidasi” di lobi hotel. ”Kami mendata kembali satu per satu teman-teman TKW. Kami mengingatkan agar masing-masing jangan bergerak sendiri dan memisahkan diri supaya mudah melakukan koordinasi jika ada pengumuman kapan pesawat ke Jakarta akan terbang," ungkap Riny.

Ia menuturkan, saat para ”relawan” sibuk mendata para TKW, seorang lelaki tampak berdiri menonton. ”Spontan saya bilang ke dia, Pak, mestinya Bapak yang ngurusin para pahlawan devisa ini, kan Bapak anggota DPR. Ini di depan mata Bapak jelas-jelas ada rakyat Bapak yang kesusahan, kasihan, kan,” kata Riny.

”Maaf, Bu. Saya bukan anggota DPR, tetapi terima kasih banyak ya, Ibu dan teman-teman sudah menolong mereka,” kata lelaki itu seperti ditirukan Riny. Ia mengetahui kemudian, lelaki itu adalah petugas agen travel yang mengurus perjalanan rombongan anggota DPR.

Menurut Rini, lelaki itu kemudian membalikkan punggung, bergabung dengan rombongan anggota DPR yang duduk tidak jauh dari situ. Beberapa orang dari mereka, kata Rini, sempat menoleh saat ia berbicara dengan lelaki dari agen travel tersebut karena berbicara dengan suara lantang. ”Mereka, ya enggak ikut membantu tuh, habis itu malah keluar menuju mobil sewaan,” ungkap Rini.

"Ngapain" cari duit ke luar negeri

Sementara itu, salah seorang TKW, Diah, punya pengalaman yang menurutnya tidak mengenakkan saat ia mencoba menyapa satu-satunya perempuan anggota Dewan dalam rombongan tersebut. Ia bertanya kepada perempuan itu apakah sudah ada informasi kapan pesawat akan terbang menuju Jakarta.

”Eh, bukannya menjawab, ibu itu malah balik bertanya ke saya dengan ketus, ngapain cari duit ke luar negeri, di dalam aja banyak kok. Saya kaget, kok ditanya baik-baik malah ngomong ketus banget. Saya bilang aja kalo saya emang orang miskin, cari duit ke mana aja yang penting halal,” terang Diah saat dihubungi Kompas.com, Kamis (18/11/2010).

Diah pun langsung melengos pergi. ”Di mata orang DPR, TKW itu enggak ada harganya. Ya, memang beginilah nasib kami, selalu dianggap menyusahkan di negeri sendiri,” katanya.

Diah sudah empat tahun bekerja untuk sebuah keluarga di Madinah, Arab Saudi. Ia bersyukur mendapat majikan yang baik. ”Saya cuti pulang kampung selama dua bulan untuk nengok anak. Majikan saya sayang sama saya. Dia malah nangis nganter saya pulang, minta saya cepet balik lagi ke Madinah,” katanya.

Mereka pulang duluan

Selanjutnya, Minggu sore, seperti diceritakan Agus Safari, mereka mendapat kabar bahwa pesawat akan berangkat pada pukul 01.00 waktu Dubai (Senin, 8/11/2010). Kembali terjadi kegaduhan.

”Tidak mudah mengatur seratusan orang. Para TKW itu tersebar. Pelan-pelan kami mengumpulkan mereka di lobi. Tidak semua dapat terangkut oleh bus yang disediakan. Jadi kami berangkat secara bertahap menuju bandara,” ujar Agus.

Saat itu, Agus merasa heran sebab hingga di bandara ia tidak melihat seorang pun rombongan DPR. ”Rupanya mereka sudah pulang duluan naik penerbangan pukul 20.00. Luar biasa tuan-tuan yang terhormat itu, mereka ngeloyor pergi duluan tanpa sedikit pun mengindahkan rakyatnya yang kelabakan ini,” kata dia.

Studi banding rumah susun

Menurut catatan Kompas.com, anggota DPR yang pergi ke Rusia adalah rombongan Komisi V yang tengah melakukan studi banding terkait RUU Rumah Susun. Selain ke Rusia, Komisi V juga melakukan studi banding yang sama ke Italia.

Informasi yang dihimpun Kompas.com, anggota rombongan studi banding rumah susun adalah Yasti Soepredjo Mokoagow dari Fraksi Partai Amanat Nasional (F-PAN), Muhidin Mohamad Said (Fraksi Partai Golkar), Roestanto Wahid (Fraksi Partai Demokrat), Usmawarnie Peter (Fraksi Partai Demokrat), Sutarip Tulis Widodo (Fraksi Partai Demokrat), Zulkifli Anwar (Fraksi Partai Demokrat), Riswan Tony (Fraksi Partai Golkar), Eko Sarjono Putro (Fraksi Partai Golkar), Roem Kono (Fraksi Partai Golkar), Irvansyah (Fraksi PDI-P), Sadarestuwati (Fraksi PDI-P), Chairul Anwar (Fraksi PKS), Ahmad Bakri (Fraksi PAN), Epyardi Asda (Fraksi PPP), Imam Nahrawi (Fraksi PKB), dan Gunadi Ibrahim (Fraksi Partai Gerindra).
KompasDotCom

Nov 15, 2010

Memahami Perbedaan Idul Adha 1431 H

M. Zaid Wahyudi
KOMPAS.com - Potensi adanya perbedaan Idul Adha 1431 Hijriah sudah diprediksi para ahli hisab rukyat dan astronom sejak beberapa tahun lalu. Perbedaan itu terwujud saat ini dengan adanya sebagian umat Islam Indonesia yang memperingati Idul Adha pada Selasa ini, sama seperti di Arab Saudi, dan sebagian lagi Rabu esok.

Melalui sidang isbat atau penetapan yang dilakukan Kementerian Agama dan dihadiri wakil berbagai organisasi massa Islam, pemerintah menetapkan Idul Adha 10 Zulhijah 1431 H jatuh pada 17 November 2010.

Anggota Badan Hisab Rukyat Kementerian Agama yang juga Profesor Riset Astronomi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Thomas Djamaluddin di Jakarta, Senin (15/11), mengatakan, secara teoretis atau hisab, bulan sabit tipis atau hilal tidak mungkin diamati pada 6 November karena ketinggiannya di atas ufuk masih di bawah dua derajat. Hal itu juga didukung dengan data pengamatan yang menunjukkan hilal belum bisa dilihat atau dirukyat di seluruh Indonesia.

Dengan demikian, bulan Dzulqa’dah atau bulan ke-11 dalam kalender Islam dibulatkan menjadi 30 hari sehingga 1 Zulhijah bertepatan dengan 8 November.

Di Indonesia, lanjut Djamaluddin, jika ada yang menetapkan Idul Adha pada 16 November, hal itu karena menggunakan kriteria wujudul hilal atau terbentuknya hilal (tanpa perlu diamati) sehingga bulan Dzulqa’dah hanya 29 hari.

Perbedaan lain muncul dengan ketetapan Pemerintah Arab Saudi yang menetapkan Idul Adha juga pada 16 November sehingga puncak ibadah haji berupa wukuf di Arafah dilakukan pada 9 November kemarin.

Menurut Djamaluddin, keputusan Pemerintah Arab Saudi menentukan Idul Adha tahun ini tergolong kontroversial. Secara teoretis, hilal tidak bisa dirukyat pada 6 November di Mekah. Namun, ternyata otoritas setempat menentukan berbeda.

Sebagai catatan, dalam keputusan penentuan hari raya, Pemerintah Arab Saudi sering kali digugat oleh para astronom di Timur Tengah dan kawasan lain. Meskipun Arab Saudi menggunakan metode melihat hilal untuk menentukan awal bulan, tapi sering kali hilal yang diklaim bisa dilihat itu secara teoretis astronomi tidak mungkin bisa dilihat.

Garis penanggalan bulan

Anggota Badan Hisab Rukyat Kementerian Agama lainnya yang juga ahli kalender di Program Studi Astronomi, Institut Teknologi Bandung, Moedji Raharto, mengatakan, garis penanggalan pada kalender Hijriah berbeda dengan garis penanggalan kalender Masehi.

Garis penanggalan Masehi didasarkan pada patokan garis bujur timur atau garis bujur barat 180 derajat. Dalam penanggalan ini, daerah yang memiliki garis bujur sama atau berdekatan mulai dari kutub utara hingga kutub selatan akan selalu memiliki hari yang sama. Perubahan hari dimulai pada pukul 00.00.

Daerah yang lebih timur juga dipastikan akan lebih dahulu waktunya dibandingkan daerah di baratnya. Karena itu, dalam sistem penanggalan Masehi, waktu di Jakarta atau waktu Indonesia barat (WIB) selalu empat jam lebih dulu dibandingkan waktu Mekkah.

Namun, garis penanggalan bulan berbeda. Garis penanggalan bulan memiliki 235 variasi. Setiap bulannya, garis penanggalan bulan berbeda-beda. Garis penanggalan bulan akan kembali di dekat tempat yang sama sekitar 19 tahun kemudian.

Banyaknya variasi garis penanggalan bulan ini ditentukan oleh posisi Bulan terhadap Bumi, dan posisi sistem Bumi-Bulan terhadap Matahari.

Daerah yang pertama kali melihat hilal akan mengawali hari lebih dulu. Hal ini berarti, daerah yang terletak pada garis bujur yang sama atau berdekatan, hari atau awal bulan Hijriahnya bisa berbeda. Hari dimulai setelah Matahari terbenam atau magrib, bukan pukul 00.00.

Kondisi ini, lanjut Moedji, yang membuat waktu di Jakarta tidak selalu lebih dahulu dibanding Mekkah. Jika diasumsikan, hilal pada Zulhijah kali ini pertama kali dilihat di Mekkah, maka sesudah magrib atau sekitar pukul 18.00 di Mekkah sudah masuk bulan baru.

Saat itu, di Jakarta sudah pukul 22.00 WIB. Baru pada magrib keesokan harinya, Jakarta memasuki Zulhijah. Artinya, pada bulan Zulhijah kali ini waktu di Jakarta tertinggal 20 jam dibandingkan waktu Mekkah.

”Dalam penanggalan Hijriah, waktu di Indonesia bisa jadi lebih dulu dibandingkan waktu di Arab Saudi. Namun, bisa jadi pula Arab Saudi lebih dulu dibanding Indonesia,” tambahnya.

Menurut Moedji, perbedaan awal hari dalam kalender Hijriah inilah yang sering dipahami secara salah. Mereka beranggapan, karena waktu di Indonesia lebih cepat dibanding Mekkah, maka saat di Mekkah berhari raya, di Indonesia juga harus berhari raya. Padahal, konsep ini didasarkan atas pencampuradukkan konsepsi kalender Hijriah dan Masehi sehingga menimbulkan kerancuan.

”Umat Islam Indonesia harus memahami bahwa mereka menggunakan dua sistem kalender. Kalender Masehi untuk keperluan sehari-hari dan kalender Hijriah untuk keperluan ibadah. Setiap kalender memiliki konsep dan konsekuensi masing-masing yang berbeda,” ungkapnya.

Meskipun berbeda, baik Moedji maupun Djamaluddin mengajak umat Islam menghormati perbedaan yang ada. Kejadian ini harus kembali memacu umat Islam Indonesia untuk segera membuat kriteria penentuan awal bulan Hijriah secara bersama yang berlaku nasional.

Jika sudah ada, maka konsepsi ini bisa disosialisasikan secara regional dan internasional sehingga diperoleh sistem penanggalan Hijriah yang bisa berlaku secara global.

”Sistem penanggalan Hijriah memang lebih kompleks dibandingkan penanggalan Masehi, tapi itu bukan berarti tidak bisa distandardisasi,” ujar Moedji.
Ijtimak Awal Zulhijah 1431 Hijriah 6 November 2010 pukul 15.52 WIB

Sumber:http://sains.kompas.com/read/2010/11/16/09075675/Memahami.Perbedaan.Idul.Adha.1431.H

Oct 13, 2010

Adakan Audiensi, Rektor ICC Tekankan Orientasi Kemahasiswaan

Rektor Islamic Call College (ICC) Tripoli, Libya DR. Muhammad Ali Zayyadi menggelar audiensi umum dengan para mahasiswanya pada Rabu kemarin (12/10).

Pertemuan yang dimulai pukul 10.00 dan berlangsung sekitar tiga jam ini dalam rangka memberikan orientasi mahasiswa tahun akademik 2010/2011. Zayyadi menekankan perlunya memperbaiki orientasi mahasiswa yang mulai kendor baik secara akademis maupun dalam kehidupan keseharian yang tidak sesuai misi dan visi kampus.

“tujuan kalian berada disini adalah untuk belajar. Dan sebagai mahasiswa Kulliyah Dakwah seharusnya mahasiswa bisa bersikap sebagai da'i yang mencerminkan visi dan misi dari kampus,” jelasnya.

Dalam kesempatan ini Zayyadi juga menjelaskan beberapa peraturan penting yang selayaknya ditaati jika tidak ingin terkena sanksi, diantaranya seperrti soal absensi yang tidak boleh lebih dari 25%, standar nilai minimum akademik yang tidak membolehkan mahasiswa mengulang (HER) lebih dari dua mata kuliah, penghormatan kepada dosen serta staff dan karyawan serta beberapa aturan lain terkait asrama mahasiswa. Pelanggaran terhadap aturan-aturan ini paling berat akan berdampak pada pemberhentian dan pemulangan mahasiswa yang bersangkutan ke Negara asal.

Meski demikian, sebelum acara ditutup, mahasiswa pada akhir sesi juga diberikan hak bersuara untuk menyatakan pendapat ataupun ide-ide mereka. Sebagian mencoba mengeluhkan adanya kelambatan birokrasi, terlalu ketatnya aturan, serta beberapa fasilitas yang kurang memadai yang perlu diperhatikan. (ad)

Sep 19, 2010

LOWONGAN Jadi Koresponden NGI Online


ini ada LOKER bagus tapi kok ya aku lagi gak ada di rumah. masih ada kerjaan lain. wah, sedih neh..
sebenarnya aku tertarik banget yang kayak begini. cocok sama kepribadianku (ce ileeh.. bahasanya pake kepribadian :P). maksudnya, aku emang suka sama dunia yang satu ini.

dari Forum National Geographic Indonesia ada info LOWONGAN KERJA bagus buat Kamu yang suka sama jepret-jepret, dokumentasi alam, dan jurnalistik.. pokoknya dunia begituan. kalau anda tertarik silahkan daftar ya.. tapi nanti kasih aku cendol kalau kamu udah diterima. santai.. kita nggak bakal saingan kok :)

Deskripsi pekerjaan

- Mengumpulkan bahan yang lengkap & akurat, melakukan analisis, lalu merangkainya menjadi artikel untuk situs web National Geographic Indonesia (www.nationalgeographic.co.id).
- Menghadiri konferensi pers dan melaporkannya dalam bentuk artikel.
- Membantu Redaksi dan Web Editor National Geographic dalam melakukan liputan.
- Menjalin hubungan baik dengan instansi dan narasumber.
- Membantu Web Editor melakukan penulisan ulang artikel-artikel dari berbagai sumber.

Syarat

- Berumur maksimal 30 tahun.
- Memiliki gairah terhadap budaya, sains, dan lingkungan.
- Mampu menulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.
- Tertarik pada dunia jurnalistik.
- Memiliki bahasa Inggris yang aktif.
- Lebih disukai jika memiliki kemampuan fotografi.
- Mahasiswa yang masih kuliah juga boleh mengirim lamaran.

Prosedur Melamar

Kirimkan surat lamaran, CV, contoh tulisan, contoh foto (kalau ada), pasfoto, serta hasil penulisan ulang (ingat, tulis ulang, bukan terjemahan) artikel http://bit.ly/tesreporter ke karier@nationalgeographic.co.id dengan subjek “Koresponden” paling lambat 4 Oktober 2010.

==============================
Sumber: NATIONAL GEOGRAPHIC INDONESIA

Sep 1, 2010

"There Is No Ground Zero Mosque”: Belajar Dari Keith Olbermann

Saya tidak tahu apa di radio-radio di Indonesia saat ini masih ada acara semacam Tajuk Rencana atau Editorial –maklum sudah 10 tahun lebih tidak ikut perkembangan di tanah air. Tapi kalau memang masih ada, maka saya sarankan coba dengar salah satu episode acara Countdown yang dibawakan oleh jurnalis senior MSNBC Keith Olbermann bertopik “There Is No ‘Ground Zero Mosque’”.

Tajuk atau Editorial di radio adalah salah satu acara yang sangat berisiko ditinggalkan pendengar. Kenapa? Karena isinya melulu bicara dan bicara. Karena itu tantangannya adalah bagaimana menulis serta menyajikannya dengan menarik. Ingat! Ini radio! Lebih bagus lagi kalau apa yang disampaikan itu benar-benar tertanam ke benak pendengar.

Saya suka sekali episode Countdown tentang masjid di ground zero ini, sampai sering saya dengar berulang-ulang. Kerunutan cara bercerita serta gaya penyajiannya buat saya sangat bagus dan bisa jadi contoh menarik. Mari kita coba bedah episode ini.

Episode ini mengudara di tengah kontroversi rencana pembangunan masjid di dekat bekas runtuhnya menara kembar di New York. Tuan Olberman memulai dengan mengutip pernyataan terkenal Friedrich Gustav Emil Martin Niemöller. seorang pastor anti nazi. Ia dikenal sebagai salah satu penentang Hitler dan sempat ditahan selama 7 tahun namun selamat dari kamp konsentrasi Nazi yang mengerikan itu. Ini cuplikan kata-katanya yang terkenal itu, namun menurut Olberman tidak banyak yang mendalami artinya

“They came first for the Communists, and I didn’t speak up because I wasn’t a Communist.Then they came for the trade unionists, and I didn’t speak up because I wasn’t a trade unionist.Then they came for the Jews, and I didn’t speak up because I wasn’t a Jew. Then they came for me and by that time no one was left to speak up.”

Dari pembukannya saja acara ini sudah menarik. Bayangkan, mereka sampai terpikirkan untuk memulai topik tentang masjid di New York ini justru dari pernyataan seorang pastor di jaman Nazi. Menurut Olbermann, kata-kata Pastor Niemöller itu mengingatkan kita tentang betapa mudahnya sebuah masyarakat yang nampak rasional berubah menjadi jahat dan penuh kebencian yang digemakan oleh para politisi dan fanatis baik di dalam atau di luar pemerintah.

“Niemoller was not warning of the holocaust. He was warning of the thousand steps before a holocaust became inevitable.”

Di negara yang menjunjung kebebasan, kata Olbermann, apa yang di peringatkan oleh Pastor Niemoller ini kembali terjadi ketika orang ramai-ramai menyebut masjid yang akan dibangun di New York itu sebagai tempat pelatihan bagi para teroris dan ini merupakan penghinaan terhadap para korban tragedi menara kembar 11 September 2001.

Ia mengungkapkan fakta bahwa bangunan itu nantinya lebih dari sekedar masjid melainkan juga pusat kegiatan masyarakat yang dilengkapi lapangan basket dan sekolah kuliner. Tempat pelatihan bagi teroris di tengah New York? Berlebihan memang, tapi Olbermann kemudian mengkritiknya dengan gaya ‘lebay’ juga.

“What a cauldron of terrorism that will be. Terrorist chefs and terrorist point guards.”

Berulangkali Olbermann mengkritik para penentang pembangunan masjid itu dengan menyertakan berbagai fakta. Satu bagian yang sangat saya suka adalah ketika Olbermann mengungkapkan fakta betapa lokasi pembangunan masjid itu tidak berada di lokasi “Ground Zero” seperti yang selama ini dibesar-besarkan oleh media dan para penentang, melainkan 4 atau 5 blok dari bekas lokasi reruntuhan itu. Yang justru berada persis di dekat Ground Zero adalah salah satu gereja tertua di New York.

“People hear “Ground Zero Mosque” and they think Mecca in the backyard and a loud call to prayer and they take umbrage.”

Dengan gaya bicara yang tenang namun tegas, Olberman lantas mengingatkan kembali pemirsanya mengapa Amerika menyerang Irak. Alasan “resminya” adalah untuk membebaskan dunia –khususnya warga Irak- dari tirani seorang Saddam Husein. Tapi siapa yang tinggal di Irak, tanyanya?

“Well, who lives in Iraq? Muslims.”

Ya, penduduk di Irak itu muslim, meskipun masih ada orang di Amerika yang tidak sadar bahwa Syiah dan Sunni yang tinggal di Irak itu adalah muslim. Olbermanpun lantas menjelaskan betapa ironisnya ketika Amerika mengorbankan ribuan tentaranya untuk membantu warga muslim disana, namun tidak mengizinkan warga Muslim di Amerika sendiri untuk membangun sebuah sekolah kuliner dan tempat ibadah.

We sacrificed 4,415 of our military personnel in Iraq to save Muslims, and there are thousands still there tonight to protect Muslims, but we don’t want Muslims to open a combination culinary school and prayer space in Manhattan?

Amerika, lanjutnya, dibangun di atas perjuangan melawan prasangka, sikap tidak toleran antar umat beragama dan musuh terberat: kebodohan, yang di eksploitir oleh para politisi serakah. Ya kebodohan! Ia memakai kata-kata itu. Untuk memperkuat pernyataannya soal orang-orang bodoh itu, ia mengingatkan kembali bagaimana 50 tahun lalu banyak warga Amerika pernah menyebarkan informasi tentang bahayanya memilih seorang calon presiden di masa itu, dengan alasan karena ia adalah seorang penganut Katolik Roma, seorang yang patuh pada Paus di Vatikan dan berpotensi menjadi agen asing. Siapa calon presiden itu?

His name was John Fitzgerald Kennedy.

Sampai di bagian ini ekspresi Olbermann terkesan mulai emosional. Ia mengingatkan bahwa para teroris yang menghancurkan menara kembar itu ingin mengubah Amerika menjadi seperti kemauan mereka. Dan apa bedanya para pengecam pembangunan masjid itu dengan para teroris?

What better way could we honor the dead of the World Trade Center, than to do the terrorists’ heavy lifting for them?

Sebagai penutup, Olbermann menyampaikan sebuah fakta menarik yang tidak banyak orang tahu, yakni tentang “Masjid Manhattan”. Masjid ini di bangun pada awal tahun 1970, dan di akhir tahun itu pula beberapa blok dari masjid tersebut pembangunan Menara Kembar New York dimulai. Jadi di lokasi dekat “Ground Zero” itu sebenarnya pernah ada masjid juga, tapi tidak pernah ada yang protes. Masjid itu terus dapat menjalankan aktifitasnya tanpa kontroversi, tanpa ada insiden, aksi terorisme maupun protes. Karena apa? Dengan nada suara keras, dia bilang begini:

Because this is America, dammit!

Dammit! Ekspresi makian dalam bahasa sehari-hari itu diucapkan Olbermann dengan keras dan tegas. Dan menutup acaranya, ia pun kembali mengingatkan pada nilai-nilai luhur Amerika..

And in America, when somebody comes for your neighbor, or his bible, or his torah, or his Atheists’ Manifesto, or his Koran, you and I do what our fathers did, and our grandmothers did, and our founders did. You and I speak up! Good night, and good luck!

Keith Olbermann memang dikenal dengan gayanya yang tegas, tajam dan cerdas, dan menurut saya episodenya kali ini adalah salah satu yang paling menarik.

Hanya 12 menit lebih Olbermann menyampaikan tajuknya. Hanya 12 menit lebihyang hanya berisi omongan tanpa harus dibantu oleh efek-efek musik yang mencekam. Dan saya yakin, ucapannya itu masuk ke banyak benak orang. Buktinya, videonya itu menyebar luas dan diteruskan kemana-mana di facebook.

Jadi apa Radio anda sudah punya acara editorial atau tajuk? Mungkin waktunya mempertimbangkan punya acara semacam itu. Inilah acara yang walau singkat, tapi menegaskan sikap kita sebagai media, asal dikemas dengan baik.

Dari Olbermann rasanya kita bisa belajar bahwa sebuah editorial yang baik itu tidak melulu mengandalkan kata-kata rumit, njlimet, yang dibacakan dengan serius dengan suara diberat-beratkan dan membosankan. Ia bisa dikemas menjadi sebuah acara yang menarik juga.

Dari Olbermann saya belajar bahwa esensi dari sebuah acara editorial adalah gabungan antara hasil riset yang memadai, cara memadukan fakta, pola pemikiran dan penjabaran yang runut, ungkapan-ungkapan yang tepat pada tempatnya dan cara pembawaan yang menarik dengan intonasi, gaya bahasa dan penekanan yang pas pada kata-kata yang dianggap penting.

Sekali lagi, menurut saya episode ini adalah contoh yang menarik buat kita orang media, khususnya orang radio, di tengah kecenderungan media kita belakangan hari ini yang entah kenapa jadi bak tukang sate yang suka sekali mengipas-ngipaskan bara kontroversi minim esensi, semata agar “bara” itu terus menyala demi menjual apa yang disebut sebagai rating!

SUmber artikel menarik ini : suarane.org

Jul 8, 2010

Tips Untuk Mengurangi Minus Pada Mata

ini oleh2 dari googling buat yang punya masalah ma mata alias kena minus. aku belum nyoba sih.. tapi bakal tak coba coz aku jg punya sedikit problem yg sama.
semoga ada manfaatnya... :)


==========================
Jakarta, Dr William Bates adalah seorang spesialis mata yang telah meninggal dunia sejak lama tahun 1931. Sang dokter yakin banyak orang yang sebenarnya tidak perlu menggunakan kacamata dengan cara melatih matanya.
Meski menghilangkan minus mata tanpa operasi masih jadi kontroversi, tapi terbukti banyak pengikut Dr Bates yang berhasil menurunkan minusnya.
Panduan menurunkan minus yang dicatat dalam bukunya berjudul ‘Better Eyesight Without Glasses’, tentu saja bertentangan dengan praktik dokter mata saat ini. Mata minus saat ini hanya bisa turun atau hilang hanya dengan operasi mata seperti lasik.
Dr Bates menemukan teknik ini setelah melakukan percobaan selama bertahun-tahun. Dr Bates mengembangkan latihan untuk meningkatkan kemampuan mata agar bisa melihat normal dan menghilangkan ketegangan yang ada akibat kebiasaan melihat dengan buruk yang menjadi penyebab masalah penglihatan.

Bukunya yang dipublikasikan pada tahun 1920, terus dijual hingga hari ini. Metode Bates tetap bermanfaat dan diikuti oleh ribuan orang di seluruh dunia.
Latihan-latihan ini didasarkan pada keyakinan bahwa secara alami mata bisa melihat dengan jelas. Setiap orang baik anak-anak maupun orang dewasa dapat belajar untuk melihat secara lebih baik lagi tanpa menggunakan kacamata.

Latihan penglihatan ini bertujuan untuk mendidik mata sehingga bisa mengatur fokus agar lebih efisien atau disebut dengan ‘fiksasi sentral’. Otot-otot mata harus dapat bergerak bebas dan membuat penyesuaian kecil yang diperlukan untuk memusatkan obyek yang dilihat.

Mata menjadi tegang karena dalam posisi tetap ‘menatap’ objek daripada melakukan gerakan konstan. Latihan ini mengajarkan seseorang untuk mengendurkan otot-otot mata dan saraf optik serta menggunakan memori dan imajinasi untuk meningkatkan koordinasi antara mata dan otak.

Latihan ini juga membantu mengatasi ketergantungan seseorang pada kacamata. Dasar dari terapi ini adalah keyakinan bahwa kombinasi dari tubuh, pikiran dan jiwa digunakan untuk melihat. Selain itu makanan, postur tubuh, stres dan kesehatan seseorang juga mempengaruhi penglihatan.

Seperti dikutip dari Eyehealthremedies, Jumat (12/3/2010) ada beberapa Metode Bates yang bisa dilakukan, yaitu:

1. Bersembunyi
Latihan penglihatan ini membantu mata untuk rileks dan beristirahat.
Cobalah duduk dengan nyaman di depan meja kemudian taruh beberapa bantal hingga tingginya sejejer mata. Letakkan siku tangan di atas bantal tersebut kemudian tutup mata dengan dua telapak tangan hingga tidak ada cahanya yang masuk. Bernapaslah perlahan, santai dan membayangkan dalam kegelapan. Mulailah melakukan hal ini selama 10 menit sebanyak 2-3 kali dalam sehari.

2. Menggoyangkan bola mata
Cobalah berdiri dan fokus pada titik yang jauh, lalu goyangkan bola mata dari kiri dan kanan atau sebaliknya sambil berkedip sebanyak 100 kali setiap hari. Berkedip berguna untuk membersihkan dan melumasi mata.

3. Memilih satu warna dalam satu hari
Pilihlah satu warna berbeda tiap hari dan melihat keluar dengan objek warna yang dipilih sepanjang hari. Ketika melihatnya seseorang akan lebih menyadari warna daripada bentuknya.

4. Berjemur
Cobalah untuk melakukan hal ini sekali dalam sehari. Kegiatan ini membutuhkan hari yang cerah atau cahaya lampu yang bagus.
Caranya tutup mata lalu lihat langsung ke matahari melalui mata tertutup. Sambil melihat matahari, perlahan-lahan gerakkan kepala ke kiri dan ke kanan sampai sejauh yang Anda bisa hingga hampir menyentuh pundak. Hal ini membantu membawa lebih banyak sirkulasi darah ke leher. Lakukan hal ini selama 3-5 menit.

5. Menggeser penglihatan
Banyak orang yang menghabiskan waktu untuk menatap layar komputer di depan wajahnya. Cobalah untuk menggeser penglihatan Anda pada tenunan kain di lengan baju, poster di dinding atau pohon di seberang jalan. Hal ini dapat membantu meningkatkan penglihatan periferal dan dapat membantu rabun jauh, rabun dekat dan masalah penglihatan lainnya. Bahkan pada beberapa kasus bisa menghilangkan katarak.
Dr William Bates memberikan tips agar saat melakukan senam mata melepaskan kacamata atau kontak lensa agar merasa lebih nyaman dan santai. Ketika melakukan latihan ini cobalah untuk sangat berkonsentrasi pada mata sehingga hasilnya lebih maksimal.

sumber : kaskus

Apr 11, 2010

Readbud: Baca Dapat Duit

readbud - get paid to read and rate articles
Kabar baru neh bagi yang suka ngorek2 dolar lewat internet alias bisnis online. Udah banyak kan program bisnis online sekarang. Tidak cuma satu macam.
Dulu ada adsense, paid to click, paid to sign up, paid to read, refferal, reviews.. Dan banyak lagi. Nah, sekarang ada satu situs yg baru lagi neh dan cukup menggiurkan saya rasa.. Kabar yg satu ini datang dari situs readbud.com dengan programnya paid to read acticles.

info ini baru saya terima tadi sore dari senior saya. Dan langsung saya hunting ke TKP.
Setelah checking kesana dan sempat ubek ubek tuh situs, saya rasa kesempatan ini cukup bagus buat jadi ladang dolar. Hehe.. Dari pada kamu internetan cuma buat pesbukan, frenster, atau game online, kan mending kamu ikutan program kayak begini. Baca2 bentar dan kumpulin point $$$ kamu.

Kelebihan dari program semacam ini adalah kamu tidak harus punya websit atau blog dan semacamnya untuk skedar dapat dolar dari internet. Karna kamu cukup baca, kasih rating lalu baca lagi dan kasih rating lagi. Dan seterusnya.. Hanya saja untuk pembayaranya sampai saat ini kamu cuma punya pilihan lewat paypal saja. Tidak ada yang lain. Jadi mau tidak mau kamu juga harus bikin acount paypal untuk nanti alamat transfer dolar yg udah kamu dapat. Untuk cara daftar di paypal-nya nanti saya postingin lain waktu.. Atau bisa kamu googling saja.

Di situs ini menawarkan program baca dapat duit yang dihargai per artikelnya skitar $0.05-$0.20. Lumayan kan?? Kamu tinggal daftar, baca lalu nge-rating artikel yang udah disediain.. Udah, dapat tuh point dah. apalagi saya rasa artikel2 yg disediain juga cukup menarik dan tidak bikin jenuh. Ditambah kamu bisa memilih topik artikel apa saja yang sesuai interest kamu.. Jadi bener2 gak bakal bosan.

Satu hal lagi kamu bakal dapat banyak informasi dan ilmu disana dengan membaca tuh artikel2. Pekerjaan yg tidak sia2. Jadi tunggu apalagi. Daftar aja di Readbud.com BACA, KASIH RATING, DAPAT DUIT.
Selamat mencoba !

Other Articles